facebook twitter rss

RUMAH BERKONSEP HIJAU, Solusi Hadapi Problema Lingkungan

Senin, 12/03/2012 20:21 WIB
Syamsudin Noer Moenadi/Dosen Institut Kesenian Jakarta Sejauh ini belum ada standar baku tentang  konsep  rumah hijau, termasuk  perumahan hijau.  Standar tersebut hanya diterapkan sepihak oleh  perusahaan properti  terhadap proyek permukiman  yang mereka bangun. Sebaliknya, bagi perorangan yang ingin membangun rumah sendiri dan mendirikannya dari nol,  pastilah menginginkan sebuah rumah nyaman, bersuasana teduh,  terlebih lagi memiliki taman dan ramah lingkungan. Tidak terkecuali,  sebuah rumah  yang berdiri di atas lahan terbatas atau paling luas 220 m2. Dalam dunia properti, perumahan hijau  merupakan tren. Malah dijadikan sebagai promosi untuk menarik Bagi perorangan yang membangun rumah sendiri ada  pendapat dan sepertinya telah menjadi rumusan baku bahwa rumah hijau tidak lain rumah urban, yakni rumah yang minim sekat tapi sehat. Andaikata ada taman, taman itu tidak sekadar penghias, tapi untuk memelihara  sistem dan ekologi lingkungan.  Dalam hal ini, taman  dijadikan paru-paru bagi penghuni rumah. Tidak berlebihan jika konsep rumah hijau atau perumahan hijau adalah jawaban terhadap keadaan masa kini di tengah suasana lingkungan yang sumpek dan amburadul. Dengan jawaban seperti itu, konsep desain hijau akan memberikan pengaruh yang pada akhirnya bisa menciptakan green behavior di tengah masyarakat.  Masyarakat akan berpikir lebih baik tinggal di lingkungan perumahan yang hijau dan hemat energi. Tidak dipungkiri dalam beberapa dekade belakangan ini, hubungan antara perilaku manusia dan lingkungan, terutama fisik, telah  menjadi kajian, termasuk di bidang arsitektur, terlebih lagi menyangkut perencanaan kota, regional, lanskap, dan desain. Sejauh ini konsep desain hijau dijadikan jualan para arsitek yang ingin mendapat tender pada pembangunan suatu rumah, gedung  atau perumahan  tertentu. Para arsitek dalam merancang menyiapkan strategi untuk menekan biaya energi, dan tawaran itulah yang diinginkan para klien maupun pengembang. Perlu diketahui biaya paling tinggi dialokasikan untuk listrik. Belum lagi material yang harus ramah lingkungan, mampu menghemat air, juga desain bangunan yang dapat mengurangi penggunaan lampu dan AC. Jelas semua itu merupakan tantangan bagi para arsitek, apakah mampu membuat desain bangunan yang konsumsi listriknya rendah. Di China, seorang arsitek bisa mendapat izin mendirikan bangunan apabila menerapkan standar  desain hijau. Sebaliknya, masalah standarisasi desain hijau di Indonesia masih dirumuskan oleh pihak profesional di bidangnya, tidak terkecuali pengembang yang orientasinya lebih condong ke bisnis. Sekadar catatan dalam menentukan standarisasi desain hijau, tidaklah salah bangunan mempunyai poin tinggi bila mengedepankan pemilihan material. Material yang bisa menambah beban energi sebaliknya dihindari. Contoh nyata granit dari Italia atau karpet bisa meningkatkan pemakaian energi lantaran suhu ruangan perlu dijaga. Perlu diketahui 48% pemakaian energi ada di dalam bangunan. Sisanya transportasi 27% dan industri 25%. Catatan lain yang perlu diketahui, bahwa biaya operasional gedung 50% di antaranya untuk listrik, dalam hal ini penggunaan AC, sisanya untuk penerangan dan sebagainya. Jadi kalau bisa menghemat pemakaian listrik berarti menghemat ongkos operasional. Artinya keuntungan yang diperoleh pihak pengembang lebih besar. Bagaimana dengan  desain rumah hijau alias rumah urban  yang dibangun sendiri dari nol?  Menurut Chandra Gunawan, arsitek yang berdomisili di Jakarta, ruangan harus dibuat open space. Kenapa? Tujuannya untuk mengakomodasi taman dalam rumah sebagai paru-paru agar bangunan berfungsi mengalirkan udara segar dan  cahaya matahari  bebas masuk tanpa halangan. Sesungguhnya desain  rumah hijau alias desain rumah urban berlandaskan upaya menjaga privasi tetapi tetap menginginkan keterbukaan dengan alam. Untuk itulah lantai dasar yang tidak lain lantai utama di mana ruang semi pribadi berada seperti ruang tamu, ruang makan, pantry, dan taman, yang hendaknya dinaikkan 3 meter dari tinggi jalan. Tujuannya supaya bebas menikmati ruang terbuka dan aktivitasnya tidak terganggu oleh lingkungan. Ruangan berkonsep desain hijau  ini betul-betul dirancang terbuka dari taman. Sentuhan demikian tentu akan mempercantik rumah, dan terasa sekali sehat sehingga diharapkan idaman para penghuni. Desain rumah hijau itu benar-benar mewakili gambaran urban. Jalan masuk utama menuju rumah melalui undakan di dampingi keberadaan ruang hijau disekeliling teras. Bagi pebisnis, model  desain hijau pada akhirnya dapat diandalkan untuk memasarkan produknya. Satu sisi, dari sisi standarisasi, rumah hijau atau perumahan hijau  perlu ditetapkan rumusan yang konkret, tidak hanya pada bisnis properti, melainkan pula pada bisnis lain.(JIBI/Bisnis/iz)    

Editor:

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

KOMENTAR