facebook twitter rss

TREN KAMAR MANDI: Kecil & Nyaman

Selasa, 12/06/2012 15:51 WIB
ilustrasi/ Jibiphoto
Jibiphoto
ilustrasi
Herry Suhendra         Tren desain kamar mandi dalam perkembangannya ada perubahan yang signifikan dibanding ruang lainnya. Tidak hanya dari segi tampilan, tapi juga filosofinya. Pandangan orang terhadap ruang ini mengalami perkembangan. Di masa lalu, rumah-rumah di Indonesia meletakkan kamar mandi jauh di belakang, bahkan terpisah dengan bangunan induk. Sebab, dulu kamar mandi identik dengan sesuatu yang kotor sehingga tidak layak berada dekat dengan ruang lainnya. Teknologi sanitari juga belum banyak, masyarakat pun menggunakan peralatan kamar mandi seadanya. Kenyamanan kamar mandi menjadi hal utama sejak ruang ini bertambah fungsi, tidak hanya untuk mandi tapi juga tempat berelaksasi. Untuk mendekorasi kamar mandi kecil, ukuran ruang menjadi perhatian utama. Desain yang simpel bisa membantu menyiasati kamar mandi kecil. Berapa ukuran kamar mandi yang disebut kecil? ”Maksimal 200 cm x 250 cm (2mx2,5m). Selain itu, biasanya berukuran 150 cm x 200 cm.” kata arsitek lulusan Universitas Parahyangan yang juga brand manager Granito, Augustinus Halim. Untuk kamar mandi kecil, ada kecenderungan memilih warna terang seperti putih, krem, dan abu-abu, karena warna-warna tersebut merupakan warna netral. Dapat juga bermain dengan ukuran tile ataupun pemasangan vertical atau horizontal, sehingga kamar mandi tersebut secara keseluruhan kelihatan lebih luas. “Bisa juga dindingnya menggunakan kaca, memberikan cahaya dan bisa memandang ke taman,” kata Augustinus. Intinya buat kamar mandi kecil supaya cantik, indah dan nyaman, ada ornamen yang menghidupkan suasana dengan aksen, dan konsepnya minimalis. Biasanya pemilihan lantai dapat disesuaikan dengan warna yang digunakan pada dinding, agar terlihat kontras dan tidak tumpang tindih. Untuk lantai dapat menggunakan tile polished untuk kamar mandi kering dan tentunya tile unpolished (agak kasar/rustic) untuk kamar mandi basah agar tidak licin. Contoh tile unpolished yang cocok untuk kamar mandi adalah tipe Lunar. Sedangkan untuk permainan ukuran dan pemasangan dapat juga melakukan seperti pada dinding. “Untuk membuat kamar mandi kecil menjadi nyaman adalah dengan memainkan sisi visualnya. Seperti kreasi lantai dan dinding yang dibuat dari ukuran tile yang berbeda, permainan "grouting" yang berpola, maupun pemasangan cermin ukuran besar di salah satu dinding kamar mandi sehingga menambah ‘keunikan’ pada dinding atau lantai," kata Granito Tile Studio Manager Kuntjoro Tjahjowarsono. Untuk ornamen bisa menggunakan Granito Mosaic, terbentuk dari banyaknya potongan tile-tile kecil atau lebih dikenal dengan chip-chip yang memberikan efek yang dinamis. Penempatan Mosaic pada bidang-bidang tertentu membuat aksentuasi ruang yang menarik. Sedangkan penempatan Desain Mosaic pada kamar mandi yang luas cenderung lebih bebas, baik sebagai aksen bidang atau pun "center point" dari ruangan, sehingga dapat menghilangkan kejenuhan. Selain Mosaic, akhir-akhir ini banyak kamar mandi yang menggunakan Granito Inspire, sebagai penunjang estetika kamar mandi tersebut. Inspire lebih memberi keleluasaan kita karena pola Inspire memiliki fleksibilitas tinggi dan dapat dipasang di satu bidang dinding maupun sebagai motif spotter disalah satu sudut/ bidang. Pihak Granito menyediakan tempat pelayanan konsultasi gratis untuk desain kamar mandi di beberapa kota di Indonesia seperti di Bandung, Semarang, Medan, Pekanbaru. Untuk Jakarta dan Surabaya dengan sebutan Granito Tile Studio (GTS). Menurut Augustinus, Granito sebenarnya lebih kuat dan keras dari keramik biasa. Oleh sebab itu Granito disebut homogenous tile dengan proses pembakaran pada suhu yang sangat tinggi (1230oC). Proses ini akan menghasilkan tile dengan water absorption (WA) yang sangat kecil yaitu 0,05% dan hal ini berdampak pada kekuatan body tile dan permukaannya (scratch resistant). “Granito tile dapat menahan beban sampai dengan 450 kg/cm2. Proses polishing yang sempurna menghasilkan produk tile Granito lebih kuat dan tahan lama,” kata Augustinus. (JIBI/nel)

Editor:

KOMENTAR