facebook twitter rss

BATIK FRACTAL: Desain Cantik Hasil Matematika Kini Jadi Tren

Andhina Wulandari Rabu, 27/06/2012 18:18 WIB
Batik Fractal/Jibiphoto
Jibiphoto
Batik Fractal

Wisnu Wage Pamungkas

Dengan perkembangan fashion dan teknologi, muncul motif batik fraktal yang saat ini mulai diminati masyarakat.

CV Piksel Indonesia lewat desain batik fraktal berhasil membawa batik menjadi jauh lebih modern, adaptif, dan punya daya tawar tinggi di pasar dunia. Lewat penemuannya berupa kompleksitas motif batik serupa dengan fraktal dalam matematika dan fisika, para pendiri Piksel yakni Nancy Margried, Muhammad Lukman, dan Yun Hariadi melahirkan software jBatik.

Lewat software ini, motif batik tradisional yang sudah ada dikupas menjadi banyak bentuk dan memiliki desain yang tak terbatas. Software ini melahirkan merek dagang Batik Fractal, produk jadi batik yang memiliki desain jauh lebih modern, luwes, dan sebut saja gaul, di tengah-tengah desain batik tradisional yang begitu-begitu saja.

Mungkinkah fraktal menghasilkan desain batik? Penemuan itu berlanjut pada diskusi panjang, konsultasi dengan sejumlah ahli, dan pengendapan ide tentang mengombinasikan antara batik, fraktal, teknologi, dan software. Fraktal sendiri adalah salah satu cabang ilmu matematika yang berfokus pada pengulangan, dimensi, literasi, dan pecahan.

Yun lantas didampuk untuk meneliti ratusan motif batik tradisional yang ada di Indonesia, mereka juga menggandeng programer untuk membantu mengerjakan software. Cukup lama, hingga mereka akhirnya matang mengeluarkan software jBatik. "Di Indonesia belum ada software yang mass design, paling banyak games atau untuk administrasi," katanya.

Batik fraktal mulai menemukan pijakan kuat setelah pada 2007, Luki berangkat ke Committee of 10th Generative Art International Conference in Politecnico, di Milan, Italia untuk mempresentasikan hasil riset mereka yang lolos seleksi. "Pertama kali istilah Batik Fractal muncul di situ, melalui paper kami dan produk batik kami," kata Luki kepada Bisnis Selasa (26/6).

Dengan modal awal Rp1 juta untuk membuat proposal, kata Nancy, mereka bergerilya memperkenalkan software tersebut selama 2007-2008. Hasilnya sejumlah penghargaan seperti ICT Award di Indonesia dan tingkat Asia Pasifik, kemudian UNESCO Award of Excellence diraih tiga sekawan ini. "Pada 2009, kami lalu mendirikan CV Piksel Indonesia," kata Nancy.

Software jBatik sendiri hadir untuk memudahkan para perajin atau perancang bahkan awam untuk menghasilkan desain-desain batik baru. Pemakai cukup memasukkan rumus-rumus fraktal dan membiarkan komputer bekerja menghasilkan motif batik. Kemudahan juga diberikan bagi awam lewat pendekatan yang sama.

Piksel menjual software ini awalnya dengan harga minimum Rp500.000. "Kini software dibanderol Rp300.000 per copy, ada tambahan pelatihan juga," katanya. Tak hanya menawarkan software Piksel juga membarenginya dengan produk jadi kategori gold dengan label Batik Fractal.

Menurut Nancy, pihaknya dihadapkan pada dua konsumen yang berbeda, antara yang hanya membeli softwarenya dengan mereka yang gandrung membeli produk jadi. "Kami memperkenalkan sebuah alat harus menunjukan dengan produk jadinya," papar perempuan berusia 32 tahun ini.

Batik kategori Gold menurutnya dibuat untuk menyasar konsumen high-end. Produk kategori ini rupanya kurang memiliki pasar yang luwes dan terbatas karena harganya yang kelewat mahal. "Banyak sekali permintaan untuk produk dengan harga yang lebih murah," katanya. Desakan dari konsumen membuat Piksel tahun ini meluncurkan batik fraktal kategori White yang diproduksi massal dan ready-to-wear.

Untuk komersialisasi, Piksel saat ini sudah memasuki online store melalui sejumlah website, salah satunya multiply. Awal Juli ini rencananya outlet pertama akan berdiri di Kuta, Bali. Menurut Nancy, Bali terpilih ketimbang Jakarta dan Bandung karena karakteristik konsumen Bali dalam berbusana jauh lebih santai. "Orang Jakarta lebih ingin profesional look, desainya lebih ke urban," katanya.

Dari hasil penjualan Batik Fractal White dan Gold serta software jBatik, Pixel Indonesia meraup pendapatan sebesar US$70.000. "Batik menyumbang 60% pada total revenue. Komposisinya dari white label 70, gold 30," kata Nancy. Pihaknya mempekerjakan sekitar 200 perajin batik outsourcing di sentra batik Cirebon dan Pekalongan. Untuk satu model batik handmade dalam sebulan dihasilkan 50 lembar kain batik model yang sama.

Sampai saat ini sudah lebih dari 600 perajin batik mendapatkan pelatihan mengenai batik fraktal. Dalam catatan Piksel, sudah ada 400 orang pengrajin yang memakai software jBatik. "Tahun ini sampai tahun depan sosialisasi pemasaran akan lebih agresif," katanya. (JIBI/aw)

Editor: Andhina Wulandari

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

KOMENTAR