facebook twitter rss

SAMUEL WATTIMENA Rancang Kostum Para Lakon Nyonya-nyonya Istana

Andhina Wulandari Senin, 19/11/2012 15:00 WIB
Pertunjukan Nyonya-nyonya Istana dengan kostum rancangan Samuel Wattimena/Kabar24/Istimewa
Istimewa
Pertunjukan Nyonya-nyonya Istana dengan kostum rancangan Samuel Wattimena/Kabar24

Reni Efita Hendry

JAKARTA--Perancang mode Samuel Wattimena terlibat sebagai koordinator untuk konsep busana para lakon Nyonya-nyonya Istana, garapan trio kreator Butet Kartaredjasa, Djaduk Febrianto, dan Agus Noor yang dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Jumat dan Sabtu (16-17/11).

Pementasan tersebut merupakan rangkaian program Indonesia Kita dan sekaligus sebagai penutupan program yang didukung oleh Djarum Apresiasi Budaya.

Agus Noor sebagai penulis skenario mengangkat tema perempuan-perempuan yang begitu menentukan dalam penyelenggaraan pemerintah. Pertunjukan tersebut disutradarai oleh Hanung Bramantyo serta dikemas dengan gaya stamboel humor yang memadukan fragmen komedi, tari, dan musik disko dangdut. Pertunjukan tersebut juga didukung oleh para sosialita Ibu Kota.

Samuel Wattimena yang dikenal dengan panggilan Sammy menyampaikan pesan-pesan pertunjukan itu melalui busana. “Saya menampilkan konsep busana bergaya Karikatur dan Fatire yang mengambarkan situasi sekarang,” katanya, yang diwawancarai melalui telepon genggam kepada Kabar24.com, Senin pagi (19/11).

Gaya karikatur terlihat waktu pembukaan pertunjukan tersebut. Para istri pejabat memakai blazer dan selendang untuk mendampingi suaminya yang memakai jas.

Melalui busana itu menunjukan perempuan itu mandiri dan tegas tetapi terkontrol. Busana istri pejabat itu seolah tempelan saja, sementara Presiden Si Butet Yogyakarta memakai setelan jasa dan Ibu Negara memakai pakaian nasional, sehingga tidak nyambung antara busana isteri pejabat dan Ibu Negara.

Menurut Sammy, hal itu menggambarkan ada sebagian orang yang pergi ke Istana memakai kebaya hanya untuk memenuhi syarat saja, namun kurang menjiwainya.

Lalu busana yang dipakai oleh para istri pejabat waktu kunjungan sosial ke lokasi bencana. Mereka mengenakan busana berwarna cerah seperti pink, kuning, hijau, oranye.

Mereka menganggap kunjungan ke lokasi bencana itu sebagai piknik dan ingin diketahui oleh orang banyak. Melalui busana yang dipakai itu, katanya, menggambarkan kurangnya rasa kepedulian sosial, seperti tidak melihat kemiskinan dan tampak ada jarak sosial.

“Ada sebagian orang yang seperti itu,” kata Sammy yang sering mengangkat kain Nusantara pada rancangannya.

Keseluruhan busana untuk pertunjukan yang berlangsung hampir tiga jam itu terdapat kurang lebih 70-80 set yang terdiri dari stelan jas, busana Ibu Negara, busana para istri pada pembukaan, busana istri pejabat waktu kunjungan ke lokasi bencana dan busana para penari.

Lakon Nyonya-nyonya Istana itu didukung oleh para komedian seperti Cak Lontong, Marwoto, Susilo Nugroho, Yu Ningsih, dan Trio GAM (Gareng, Joned dan Wisben) yang berperan sebagai Anggota Kabinet Indonesia bersatu Jilid Terakhir.

Garis besar ceritanya tentang kabinet yang menandai akhir masa jabatan Bapak Pemimpin Istana, yang secara konstitusi tidak bisa mencalonkan diri lagi. Lalu muncul isu Bapak Pemimpin Istana sedang menyiapkan Putra Mahkota sebagai penggantinya. Beredar kabar juga kalau Nyonya Istana ingin maju mencalonkan diri.

Di tengah berbagai isu itulah, Nyonya-nyonya di lingkungan Istana mulai berperan mendampingi para suaminya yang juga berambisi menggantikan Bapak Pemimpin Istana.

Sederetan kaum sosialita Jakarta yang ikut meyemarakkan pertunjukkan itu adalah Jais Darga, Vivi Yip, Cicilia King, F. Nadira, Amie Ardhini, Flora Simatupang. Juga didukung oleh Budiono Darsono, Dibyo Primus, Merlyn Sopjan, dan tak ketinggalan Butet Kartaredjasa.

Untuk musik diserahkan kepada Jakarta Street Music . Pertunjukan itu sarat dengan ketawa, karena mereka juga menghadirkan perkembangan berita terkini secara komedi. (Kabar24/aw)

Editor: Andhina Wulandari

KOMENTAR