facebook twitter rss

SKANDAL PENYADAPAN: James Murdoch Akhirnya Mundur

Linda Tangdialla Kamis, 01/03/2012 14:03 WIB
Algooth Putranto/JIBI/Bisnis JAKARTA: Skandal penyadapan telepon News of the World, harian tertua di Inggris, terus bergulir dan hari ini James Murdoch resmi mengundurkan diri dari jabatan CEO News International.   NoW mengakibatkan penangkapan beberapa editor, penutupan mendadak, dan kematian Sean Hoare,  mantan wartawan yang pertama mengeluarkan tudingan terkait dugaan penyadapan telepon oleh NoW.   James mundur setelah empat tahun menangani The Sun, edisi akhir pekan The Sun dan koran The Times. Menurut News Corporation alasan mundur James Murdoch karena pindah ke New York.   Rupert Murdoch, mogul media internasional sekaligus ayah James, ketika di London menyatakan James pindah ke New York dan akan fokus pada bisnis TV berbayar dan sejumlah operasi internasional yang lebih luas.   Murdoch adalah raja media asal Australia yang kini menjadi warga negara AS. Dia berkibar dengan bendera News Corp. Media yang dimilikinya a.l The Sun, The Daily Telegraph, Fox Broadcasting Company, dan The Wall Street Journal.   James meninggalkan Tom Mockridge di London sebagai kepala eksekutif News International dan bertanggung jawab kepada presiden News Corp dan direktur operasional Chase Carey.   Skandal penyadapan NoW menyita perhatian politisi Inggris. Parlemen Inggris bahkan harus adu mulut dengan Perdana Menteri David Cameron perihal etika penyadapan yang umum dilakukan media demi kepentingan sebuah investigasi.   Gara-gara kasus ini polisi senior Inggris John Yates dan kepala Kepolisian Metropolitan London Komisaris Paul Stephenson mengundurkan diri. Yates pernah menolak membuka kembali penyelidikan kasus penyadapan di koran N0W.   Kerajaan media Murdoch mendapat tekanan setelah keluarga Milly Dowler, seorang anak perempuan yang tewas dibunuh namun teleponnya disadap oleh NoW sehingga sempat dianggap masih hidup oleh keluarganya, terungkap.   Mingguan NoW juga diperkirakan menyadap telepon milik para korban serangan bom di London, Juli 2005. Belakangan diketahui tabloid beroplah 2,8 juta, berusia 168 tahun itu, kerap melakukan penyadapan terhadap sejumlah tokoh untuk keperluan pemberitaan.   Selain di Inggris, penyadapan telepon diduga juga terjadi di Amerika Serikat. Sejak tahun lalu FBI menyelidiki dugaan, yang jika terungkap akan menjadi skandal terburuk sepanjang sejarah media massa.(lt)  

Editor: Linda Tangdialla

KOMENTAR