facebook twitter rss

KONFLIK RASIAL: 17 Warga India Tewas, Ribuan Mengungsi

Saeno Senin, 23/07/2012 15:47 WIB
Ilustrasi-Sehari-hari warga menggunakan perahu sebagai alat transportasi di Assam, salah satu wilayah miskin yang kerap bergejolak di India/Reuters/Utpal Baruah
Utpal Baruah
Ilustrasi-Sehari-hari warga menggunakan perahu sebagai alat transportasi di Assam, salah satu wilayah miskin yang kerap bergejolak di India/Reuters
Newswire GUWAHATI-INDIA -- Setidaknya 17 orang, termasuk seorang bayi berusia 6 bulan, tewas dan sejumlah lainnya terluka pascabentrokan berbau rasial antara penduduk asli dan pendatang Muslim di wilayah Assam, India. Demikian disampaikan kalangan kepolisian negeri itu, Senin (23/7). Untuk mencegah situasi berkembang lebih parah, pihak berwenang menetapkan aturan jam malam dan pasukan federal dikirim ke pelosok wilayah. Sementara itu, sekitar 50.000 penduduk desa memilih meninggalkan rumah mereka dan mengungsi di tenda-tenda pengungsian karena khawatir situasi akan memburuk, ujar Donald Gilfellon, seorang pegawai negeri senior di distrik Kokrajhar. Ia menambahkan, sebanyak 37 tenda disiapkan untuk para pengungsi dan jumlahnya akan ditambah jika memang diperlukan. Pertikaian rasial itu dipicu serangan seorang pria tak dikenal yang menewaskan 4 orang pemuda di distrik Kokrajhar yang didominasi suku Bodo, ujar polisi dan pejabar distrik. Sebagai balasan, pasukan dari suku Bodo menyerang warga Muslim yang dicurigai sebagai pihak yang berada di balik aksi pembunuhan tersebut. Polisi mengatakan kelompok-kelompok tidak dikenal melakukan pembakaran rumah-rumah, sekolah, dan kendaraan, juga menembak secara membabi buta dengan senjata otomatis ke wilayah pemukiman. Tubuh seorang bayi berusia 6 bulan ditemukan penduduk desa di tepi sungai bersama dengan tubuh seorang wanita pada hari Minggu, ujar polisi. "Tujuh belas orang tewas dalam aksi kekerasan itu. Banyak orang meninggalkan rumah mereka karena merasa tidak aman dan memilih tinggal di tenda-tenda pengungsian," ujar seorang perwira polisi senior, yang minta tidak disebutkan namanya, melalui telepon. Dikelilingi oleh China, Myanmar, Bangladesh dan Bhutan, wilayah timur laut India adalah rumah bagi lebih dari 200 kelompok etnis dan suku asli yang telah cukup lama didera pemberontakan separatis sejak India merdeka dari Inggris pada 1947. Sentimen anti-imigran dan anti-Muslim yang kuat terhadap pemukim asal Bangladesh telah muncul di antara penduduk India dengan berbagai latar belakang agama dalam beberapa tahun terakhir. "Situasinya mencekam dan banyak aparat keamanan yang dikirim ke daerah konflik," ujar SN Singh, inspektur jenderal polisi distrik Assam kepada wartawan. Aktivitas bisnis, perkantoran dan sekolah tutup pada hari Senin dan jalan-jalan pun nampak lengang. "Kami tidak berpikir untuk pulang ke rumah. Desa kami rentan terhadap serangan dan pemerintah gagal memberikan perlindungan, " ujar Hiranya Musaharay, salah seorang warga, melalui telepon dari Kokrajhar tempat ia tinggal bersama kerabatnya. (Reuters/sae)

Editor: Saeno

KOMENTAR