facebook twitter rss

SURIAH BANJIR DARAH: Prancis Desak Rusia dan China Segera Bertindak

Saeno Kamis, 26/07/2012 21:33 WIB
Foto Presiden Bashar al-Ashad tersandar di dekat sebuah kontainer tempat sampah/Reuters/Shaam News Network/handout
handout
Foto Presiden Bashar al-Ashad tersandar di dekat sebuah kontainer tempat sampah/Reuters/Shaam News Network
Newswire WARSAWA, POLANDIA – Prancis, Kamis (26/7) meminta Rusia dan China melakukan tindakan nyata bersama Dewan Keamanan PBB untuk mencegah kemungkinan terjadinya banjir darah di Kota Aleppo, Suriah. Di wilayah itu, pasukan pemerintah Suriah dilaporkan melakukan serangan yang masif terhadap para pemberontak. Ditanya pendapatnya soal situasi di Aleppo, Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius berkata, “Negara-negara di dunia dan terutama anggota tetap (Dewan Keamanan) harus bertindak bersama-sama dan memperlihatkan tanggung jawab,” Khusus tentang Rusia dan China, ia mengatakan "Kami berharap pada akhirnya mereka akan mendengarkan tuntutan, tidak hanya dari warga Suriah, tapi dari seluruh dunia dan negara-negara Arab, untuk menghentikan Suriah mengalami banjir darah.” Damaskus dan kota terbesar kedua di Suriah Aleppo dihujani tembakan pasukan yang loyal pada pemerintah pada Kamis. Serangan dari pasukan pro Presiden Bashar al-Assad itu dimaksudkan untuk mengusir para pemberontak dari dua kota utama tersebut. Salah seorang tokoh paling senior di lingkaran inti Assad, Brigadir Jenderal Manaf Tlas mengajukan dirinya sendiri sebagai salah satu orang yang bisa mempersatukan perpecahan kalangan oposisi di dalam dan luar negeri Suriah dalam sebuah cetak biru rencana pemindahan kekuasaan. Serangan bom yang menewaskan empat letnan yang memiliki hubungan paling dekat dengan Assad pekan lalu menimbulkan dugaan di antara para lawannya bahwa kekuasaan presiden berusia 46 tahun itu akan segera berakhir. (Reuters/sae)

Editor: Saeno

KOMENTAR