facebook twitter rss

BOM MARATON BOSTON: Dirut BTPN Jerry Ng Selamat

Andhika Anggoro Selasa, 16/04/2013 09:55 WIB
Ledakan bom maraton Boston/Reuters
Reuters
Ledakan bom maraton Boston

Fahmi Achmad

KABAR24.COM, JAKARTA --Ledakan bom yang terjadi di ajang lari maraton Boston, Amerika Serikat, nyaris saja merenggut nyawa Direktur Utama PT BTPN Tbk Jerry Ng meski dirinya termasuk peserta lari.

Seperti dilansir akun Sekretariat Kabinet @setkabgoid, dua warga negara Indonesia menjadi peserta lari maraton adalah Jerry Ng dan Wati Hlusak. "Dua orang ini aman, selamat," ujar Konjen RI di New York, Ghafur Akbar Dharmaputra.

Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal meminta komunitas Indonesia di Negeri Paman Sam untuk meningkatkan kewaspadaan.

Sang Dubes melalui akun Twitternya @dinopattidjalal mengatakan, "Sehubungan dgn ledakan di Boston marathon hari ini, sy himbau diaspora Indonesia di USA tingkatkan kewaspadaan."

Diaspora Indonesia adalah warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri. Dari 167 kedutaan besar dan perwakilan RI yang ada di luar negeri, saat ini diperkirakan ada sekitar 4,7 juta WNI di luar wilayah Indonesia. Namun ada juga warga Indonesia yang telah menjadi warga negara asing karena proses naturalisasi dan tidak lagi memiliki paspor Indonesia.

Dua ledakan dalam lomba lari "Boston Marathon" menyebabkan dua orang tewas dan 23 orang terluka, sementara puluhan ribu orang menyaksikan ajang maraton populer itu. Ledakan ketiga terjadi di perpustakaan John F Kennedy.

Sejumlah gambar dari lokasi kejadian menunjukkan percikan darah bertebaran di lokasi dan beberapa orang terjatuh.

Rumah Sakit Umum Massachusets segera menangani para korban ledakan di UGD tetapi informasi mengenai kondisi mereka belum dapat diberikan, kata seorang juru bicara seperti dikutip Reuters.

Polisi melaporkan sedikitnya satu ledakan, saksi mata mendengar dua ledakan, sedangkan wartawan di media center menengar dua ledakan dalam insiden di tengah sorak penonton merayakan ajang yang pertama kali digelar pada 1897 itu.

Seorang pelari asal Vancouver Kanada, Mike Mitchell, mengatakan sedang menengok ke belakang setelah melintasi garis finis ketika kemudian melihat ada ledakan besar.

"Semua orang panik," katanya

Presiden AS Barack Obama telah diberi tahu tentang insiden tersebut dan segera memerintahkan pejabat terkait untuk memberikan bantuan yang diperlukan.

"Darah di mana mana, para korban masih mengenakan baju larinya. Saya bahkan melihat seorang kehilangan kakinya, orang-orang terus menangis," kata wartawan Boston Globe, Steve Silva, lewat Twitter.

Ratusan ribu penonton biasa memadati lintasan lari sepanjang 42,19 kilometer dengan terpadat di dekat garis finis.

Boston Marathon telah diglar pada Hari Patriot sejak 1897, tepatnya setiap hari Senin ketiga di bulan April. Ajang yang start di Hopkinton, Massachusets dan berakhir di Copley Square Boston itu menarik sekitar setengah juta pengunjung dan 20 ribu peserta setiap tahunnya.

Sebelumnya, pelari Lelisa Desisa asal Ethiopia dan Rita Jeptoo asal Kenya memenangkan lomba lari masing-masing untuk kategori pria dan wanita.

Presiden Barack Obama mengatakan bahwa Amerika Serikat belum mengetahui siapa yang bertanggungjawab atas ledakan di Maraton Boston, namun dia bersumpah untuk mengejar siapapun yang bertanggungjawab dan menghukumnya.

"Kami belum mendapatkan semua jawaban," kata Obama seperti dikutip AFP. "Kami masih tidak tahu siapa yang melakukan ini atau mengapa."

Dia yakin ledakan itu aksi terencana namun enggan terburu-buru menyebutnya sebagai serangan teroris.

Sementara itu penyelenggara Maraton Paris Joel Laine menyebut ledakan Maraton Boston itu sebagai tindakan yang menjijikkan.

Kepada AFP, Laine khawatir ledakan itu akan merembet ke lomba maraton lainnya yang diselenggarakan pekan ini, yaitu Maraton London.

"Ini tindakan menjijikkan yang tak bisa diukur siapapun. Maraton Boston Marathon adalah kegiatan olahraga menyenangkan di mana mereka yang mengikutinya selalu tersenyum," kata Laine.

Laine yakin semua peserta orang Prancis pada Maraton Boston telah kembali ke hotel mereka dengan selamat. "Itu horor, mereka membicarakan orang-orang yang harus diamputasi di Boston," sambung Laine.(JIBI/ad)

Editor: Andhika Anggoro

KOMENTAR