facebook twitter rss

Freedom Flotilla Bakal Masuk Papua

Basilius Triharyanto Rabu, 28/08/2013 10:22 WIB
Konvoi kapal Freedom Flotilla yang berlayar menuju Papua/The Sidney Morning Herald
The Sidney Morning Herald
Konvoi kapal Freedom Flotilla yang berlayar menuju Papua

Kabar24.com, AUSTRALIA – Kelompok aktivis Australia Freedom Flotilla bulan depan akan masuk ke Papua. Juru Bicara Freedom Flotilla Ruben Blake menyatakan telah mendapatkan izin masuk ke perairan Indonesia, namun ditarik kembali oleh Indonesia.

Freedom Flotilla akan berlayar dari Australia menuju perairan Indonesia. Kelompok ini akan konvoi dengan tiga perahu yang membawa sekira 20 aktivis. Freedom Flotilla beberapa minggu ke depan rencananya akan sampai di perairan Papua Bagian Selatan, Merauke.  

Ruben Blake kepada Radio Selandia Baru Internasional pada Selasa (27/8) menyatakan sudah mendapatkan izin dari pemerintah Indonesia tetapi izin itu ditarik kembali. Otorisasi pemerintahan di Papua juga telah mengeluarkan visa masuk. Ia juga sudah mendapatkan paspor yang dikeluarkan orang asli Australia Aborigin untuk mengunjungi negara-negara suku asli mereka.

Blake khawatir dengan sikap (militer) Indonesia yang akan mencegat dan menolak kedatangan mereka. Pekan lalu pemerintah Indonesia mengingatkan kedatangan para aktivis Freedom Flotilla adalah ilegal.

Dalam wawancara dengan wartawan Radio Selandia Baru Internasional Mary Baines, yang disiarkan dalam situs rnzi.com pada Selasa (27/8), Ruben Blake menyatakan tetap tak mengubah rencana perjalananya meski keselamatan dirinya dan para aktivis terancam. Ia sangat khawatir dengan tindakan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Indonesia yang akan menangkap kapal dan aktivis Freedom Flotilla.

Menurut Ruben Blake ia terkejut dengan respon yang ditunjukkan pemerintah Indonesia. “Indonesia telah berusaha keras menghindari wartawan asing, LSM dan pengamat hak asasi manusia masuk ke provinsi itu secara bebas,” kata Blake.

Menurut Blake, kedatangan aktivis Freedom Flotilla ke Papua untuk melihat secara dekat tentang situasi dan persoalan yang dialami oleh orang-orang di Papua. Baginya, sikap pemerintah Indonesia itu memprihatinkan.

Ruben meminta dukungan Menteri Luar Negeri Australia Bob Carr untuk memperhatikan keselamatan dan ancaman yang diperoleh para kelompok aktivis itu. “Ancaman senjata atau kekuatan (militer) benar-benar menjadi perhatian. Orang-orang di seluruh dunia harus peduli pada keselamatan orang-orang di dalam kapal tersebu,” kata Blake.

Menurutnya, Indonesia tak perlu malu membuka akses bagi konvoi misi damai ini. Ia sudah menerima laporan bahwa militer Indonesia akan menghadang konvoi perdamaian tersebut.

Tiga armada kapal akan berlayar ke perairan Indonesia melalui selat Torres, Australia. Saat akan mendekati perairan Indonesia, Blake mengatakan mengajukan izin berlayar masuk ke perairan Indonesia. Awalnya mereka diberikan izin, namun belakang izin itu ditarik lagi.

Blake menyerukan kepada Australia, Indonesia, dan Papua Nugini untuk memberikan akses perjalanan dan misi kebudayaan mereka. Namun, rencana Blake dan 20 aktivis Australia ini akan mendapatkan rintangan besar karena ini menyoal kedaulatan Indonesia. Presiden SBY beberapa waktu lalu meminta negara-negara asing untuk tak mengganggu kedaulatan Indonesia.

Freedom Flotilla adalah koalisi internasional untuk gerakan solidaritas masalah hak asasi manusia. Organisasi yang dibentuk pada 2010 ini pernah melakukan misi perjalanan ke jalur Gaza di Palestina.(Kabar24.com)

Editor: Basilius Triharyanto

KOMENTAR