facebook twitter rss

APEC 2012: Indonesia Tolak Aturan Produk Ramah Lingkungan

Andhina Wulandari Senin, 04/06/2012 17:19 WIB
APEC 2012/Jibiphoto
Jibiphoto
APEC 2012
Hilman Hidayat KAZAN: Pemerintah Indonesia menolak keinginan sejumlah negara anggota APEC agar produsen dan eksportir dalam negeri ikut aturan environmental goods (EG) atau aturan produk ramah lingkungan. Iman Pambagyo, Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI, mengatakan Pemerintah Indonesia tetap bersikukuh untuk tidak ikut aturan environmental goods yang akan diberlakukan pada produsen atau eksportir dalam negeri karena masih butuh persiapan. “Pemerintah masih ingin menyiapkan produsen dan eksportir dalam negeri agar siap berkompetisi di tingkat global,” katanya di sela acara forum APEC Meeting of Ministers Responsible for Trade (MRT) 2012 di Kazan Russia, Senin (4/6). Dia mengaku Indonesia mendapat tekanan cukup kuat dari berbagai negara soal aturan produk ramah lingkungan tersebut. Pembicaraan tentang produk dagang yang ramah lingkungan (EG) tersebut menjadi diskusi yang menarik dan mendapat perhatian serius di forum APEC kali ini. Menurut dia, di antara anggota forum APEC terkesan masih terbelah dua, antara yang mendukung sepenuh hati dan yang masih berat hati. “Masalahnya kembali kepada kesiapan masing-masing Negara yang menginginkan perlindungan terhadap produsen dan eksportirnya. Isu besar ini pernah menggelinding di forum WTO namun kemudian deadlock alias mati suri,” ujarnya. Iman mengatakan yang terkesan siap dengan produk ramah lingkungan dalam ekonomi APEC adalah dari negara-negara yang memiliki koordinasi internal relatif baik. Mereka diperkirakan akan mampu meraup keuntungan ekonomi bila disahkannya daftar EG. Sementara itu, ujar dia, negara yang kurang siap terlihat masih maju mundur mengingat hal tersebut bisa berdampak negatif bagi ekonomi dalam negeri, termasuk Indonesia. “Bahkan banyak ekonomi APEC yang mempertanyakan mengapa pembicaraan tentang isu ini seolah dipindah dari WTO ke APEC,” katanya. Berdasarkan data sampai dengan akhir Mei 2012 sudah tercatat 13 dari 21 anggota ekonomi APEC telah menyerahkan daftar produknya yang ramah lingkungan untuk kemudian dikompilasi oleh Friend of the Chairs EG APEC menjadi 300-an produk. Negara-negara maju yang sudah menyetor daftar produknya seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Hongkong, dan Rusia. Bahkan empat anggota ASEAN juga telah menyatakan ikut dan melaksanakan tugasnya, yaitu Thailand, Malaysia, dan Singapura serta Brunei Darussalam. Sedangkan Indonesia berada di jajaran yang belum menyetor bersama beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Vietnam dan Philipina. Menurut Iman, pemerintah Indonesia sebenarnya telah menyikapi secara jelas negosiasi soal produk ramah lingkungan ini. “Secara prinsip memang tidak ada masalah dan bahkan memberikan dukungan, namun sampai saat ini tengah dikaji secara mendalam tentang dampak implementasinya,” katanya. Dengan kata lain, ujarnya, Indonesia masih ingin memberikan kesempatan kepada produsen dan eksportirnya untuk mempersiapkan diri dengan baik. "Sambil kita mempersiapkan pengusaha kita, pemerintah terus mengadakan konsolidasi internal untuk mematangkan daftar EG dari Indonesia. Disisi lain kita juga ingin, EG ini benar-benar memperhatikan aspek lingkungan, bukan melulu aspek dagangnya yang ditonjolkan," katanya. Menurut Iman, Indonesia memiliki banyak sekali produk yang ramah lingkungan baik dalam bentuk yang sederhana dan tradisional hingga yang berteknologi. Masalahnya, kata dia, di forum APEC ini belum terdapat kejelasan tentang kriteria produk dagang yang bisa masuk dalam daftar EG. "Kami pemerintah harus hati hati menciptakan kebijakan di forum internasional memang perlu kecermatan tinggi dan kehati-hatian," katanya. Masalah tentang status EG adalah apakah EG akan mandapatkan perlakuan khusus dalam hal tarif ataukah menjadi semacam produk bersama yang harus diterima oleh semua Negara ekonomi APEC. “Yang sudah pasti, negara yang telah menyerahkan daftarnya berharap segera memasuki pasar ekonomi lainnya dengan kemudahan tertentu sebagai konsekuensi label ramah lingkungan,” katanya. Menurut dia, upaya perlindungan lingkungan hidup di antara ekonomi APEC dalam environmental goods list telah disepakati pada KTT APEC di Honolulu tahun lalu. Diharapkan, tahun 2012 ini telah terkumpul daftar produk untuk dapat dibahas lebih lanjut dan dikeluarkan berbagai kebijakan terkait produk dimaksud. Dalam forum APEC 2012 di Kazan Russia ini, delegasi Indonesia dipimpin oleh Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamukthi. (JIBI/aw)

Editor: Andhina Wulandari

KOMENTAR