facebook twitter rss

PENETAPAN PUASA: Ini Opini Muhammadiyah Vs NU

Kamis, 19/07/2012 16:35 WIB
Ilustrasi/Jibiphoto
Jibiphoto
Ilustrasi
Sutan Eries Adlin JAKARTA-- Seperti telah diprediksi dan pengalaman sebelumnya, akan ada perbedaan penetapan awal Ramadan antara dua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah sedari awal sudah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1433 H jatuh pada hari Jumat (20/7). Sementara NU memperkirakan awal Ramadan jatuh pada Sabtu (21/7). Berikut ini pandangan kedua ormas Islam terbesar di Indonesia ini. NAHDLATUL ULAMA "NU telah memprediksi awal Ramadan, namun bukan berarti NU telah menetapkan tanggal itu. Ini penting disampaikan," kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A Ghazalie Masroeri, di Jakarta, Rabu (18/7) seperti ditulis Antara. Prediksi bahwa 1 Ramadan 1433 H jatuh pada Sabtu 21 Juli 2012 tersebut juga tertuang dalam Almanak PBNU yang diterbitkan Lajnah Falakiyah. Kiai Ghazalie mengatakan, prediksi tersebut diambil berdasarkan perhitungan menggunakan metode ilmu hisab yang paling modern. "NU menggunakan hisab yang tahkiki, tadzkiki, ashri," kata Kiai Ghazalie. Berdasarkan hisab modern, posisi hilal pada saat dilakukan rukyatul hilal pada Kamis (19/7) mendatang atau 29 Sya`ban 1433 H baru berada pada ketinggian 1 derajat 38 menit di atas ufuk. Maka hilal dinyatakan belum "imkanur rukyat" atau belum bisa dilihat sehingga tidak mungkin dapat dirukyat. Menurut Kiai Ghazalie, negara-negara yang tergabung dalam MABIM (Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam) menetapkan 2 derajat sebagai batas minimal visibilitas pengamatan. "Itu pun oleh pakar astronomi masih mau dinaikkan menjadi 4 derajat," katanya. Secara astronomis, lanjutnya, hilal (bulan sabit) tidak mungkin bisa diamati jika masih berada di bawah batas visibilitas pengamatan. Dengan demikian almanak PBNU menggenapkan bulan Syaban menjadi 30 hari berdasarkan kaidah istikmal. Meski demikian, Lajnah Falakiyah tetap akan melakukan rukyatul hilal di beberapa titik di Indonesia karena untuk penentuan awal Ramadhan 1433 H NU tetap mengambil keputusan berdasarkan hasil rukyat. "Prediksi atau hisab hanya memandu kita untuk melaksanakan observasi atau rukyatul hilal," kata Kiai Ghazalie. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama juga mengimbau warga NU untuk menunggu hasil rukyatul hilal yang akan diselenggarakan Kamis (19/7) sore. MUHAMMADIYAH Dalam Tanwir Muhammadiyah di Bandung beberapa waktu lalu, Muhammadiyah telah mengeluarkan Maklumat dengan nomor 01/MLM/I.0/E/2012 tentang penetapan Ramadan, Syawwal, dan Dzulhijjah 1433 Hijriyah, serta imbauan menyambut Ramadan 1433H. Dengan Maklumat yang ditandatangani Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan juga sekretaris umum PP Muhammadiyah Agung Danarto, Muhammadiyah secara resmi telah menetapkan awal puasa, Idul Fitri, dan juga Idul Adha 1433 Hijriyah. Dien Syamsuddin dalam berbagai kesempatan menyatakan bahwa awal Ramadan tahun ini jatuh pada Jumat 20 Juli 2012. Menurut ketua majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar, penentuan awal bulan Ramadan, Syawwal dan Dzulhijjah ini sebenarnya sudah dapat ditentukan jauh-jauh hari, seperti dalam kalender Masehi. “Sistem penanggalan yang baik adalah suatu sistem kalender yang dapat memberikan penjadwalan waktu yang akurat dan pasti jauh ke depan sehingga bisa dipedomani jauh-jauh hari sebelumnya,” jelasnya, Kamis (28/7). Sebelumnya, ketua umum PP Muhammadiyah juga telah menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap dengan metodenya menggunakan ilmu esakta, yaitu astronomi, untuk menetapkan awal puasa Ramadan dan Idul Fitri. (JIBI/nel)

Editor:

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

KOMENTAR