facebook twitter rss

PENENTUAN PUASA: Hingga 2014 Awal Ramadan Berpotensi Beda

Saeno Jum'at, 20/07/2012 15:11 WIB
Garis tanggal 19 Juli/tdjamaluddin.wordpress.com
tdjamaluddin.wordpress.com
Garis tanggal 19 Juli
Saeno M Abdi Jika Anda iseng-iseng mencari informasi tentang hisab dan rukyat, dan memasukkan kata kunci “analisis awal Ramadhan 1433” paling tidak akan ditemukan dua pandangan dari dua orang yang memiliki perhatian pada astronomi. Satu artikel berjudul Analisis Garis Tanggal Awal Ramadhan dan Syawal 1433 H ditulis T. Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN, yang juga Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI. Tulisan ini diposting pada 19 Juni di blog tdjamaluddin.wordpress.com. Tulisan lain, berjudul Mengapa 1 Ramadan Jatuh Pada 20 Juli 2012? Dibuat Tono Saksono, di sebuah laman tertera identitas yang bersangkutan tertulis Prof. Madya Dr Tono Saksono. Tulisan Tono tentang 1 Ramadan jatuh pada 20 Juli sendiri diunggah pada 16 Juli di blog cis-saksono.blogspot.com. CIS sendiri adalah kependekan dari Center for Islamic Studies. Kedua ilmuan ini pada awal tulisannya sama-sama mengungkapkan kemungkinan terjadinya perbedaan penentuan 1 Ramadan tahun 2012. Menurut Djamaluddin, hisab untuk menghitung masa lalu atau masa akan datang bukanlah perkara rumit. “Itu mudah dibuat dengan menggunakan perangkat lunak astronomi yang kini sudah banyak tersedia, baik yang gratis maupun yang komersial. Salah satunya bisa didownload dari situs ICOP berupa program Accurate Time,” ujar Djamaluddin. Masalahnya, lanjut dia, terletak pada saat menafsirkan garis tanggal dan memilih kriteria yang digunakan. Ia menyebutkan, garis tanggal awal Ramadhan dan Syawal 1433 dari Accurate Time dan interpretasi implementasinya menyebabkan potensi perbedaan awal Ramadan, sementara Idul Fitri 1433 Hijriah diperkirakan akan berlaku seragam. Ihwal perbedaan penentuan awal Ramadan, Tono Saksono menyebutkan itu dapat terjadi pada tahun 2012, 2013, dan 2014. Faktornya terletak pada batasan visibilitas hilal. Tono yang berpendapat bahwa 1 Ramadan 1433 jatuh pada 20 Juli 2012 melakukan perhitungan dengan menggunakan software Accurate Times, dan Time And Date (www.timeanddate.com). Basis hitungan dilakukan berdasarkan pada kota Makassar (GMT+8), Sulawesi Selatan. Menurutnya, ijtima atau konjungsi geosentris pada 19 Juli 2012 akan terjadi pada sekitar jam 12:25 waktu lokal Makassar. Sedangkan pada saat maghrib 19 Juli 2012 (jam 18:04) di Makassar, hilal akan berada pada ketinggian sekitar 1.4 derajat, karena Bulan baru akan tenggelam pada sekitar jam 18:10, atau 6 menit kemudian setelah maghrib. “Dengan kondisi astronomis seperti ini, jelas hilal akan sangat sukar tampak oleh mata karena meskipun bola Matahari telah tenggelam sepenuhnya (saat maghrib), atmosfir di sekeliling Bumi masih cukup kuat memantulkan cahayanya sehingga masih cukup menyilaukan untuk dapat melihat hilal. Apalagi bagian Bulan yang tersinari Matahari yang menghadap ke Makassar (hilal) masih hanya 0.05 menit (angular minutes) atau sekitar 0.13% saja (dibandingkan dengan 100% yang terjadi saat purnama yang sempurna).” Tono menambahkan, biasanya, pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Agama akan menganulir ini sebagai kondisi syah untuk mengawali sebuah bulan Islam, utamanya Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Dengan demikian hampir bisa dipastikan bahwa maghrib 19 Juli 2012 tidak akan diakui sebagai awal Ramadan 1433H. Selain itu, prinsip imkan-rukyat yang dianut pemerintah mensyaratkan ketinggian hilal minimum 2 derajat. Biasanya, Kementerian Agama akan meminta umat Islam Indonesia melakukan isti’mal (menggenapkan) bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Dengan demikian Kementerian Agama akan menetapkan secara otomatis maghrib 20 Juli 2012 sebagai awal Ramadan 2012. Tono mengingatkan bahwa bagian permukaan Bulan yang tersinari Matahari (hilal) yang menghadap ke bumi sebetulnya terus membesar dari waktu ke waktu. Ketebalan hilal akan bertambah sebesar sudut 0,02 menit dalam setiap jamnya. Cuma, ya itu tadi, karena Matahari bersinar terang sampai magrib pukul 18.05 waktu Makassar maka hilal pun tak akan terlihat. Kondisi hilal dengan mengggunakan program Stellarium, lanjutnya, pada jam 17:45 pada 20 Juli 2012 di Makassar, sekitar 20 menit sebelum Matahari tenggelam menunjukkan kondisi hilal yang telah setebal 1.6% (sekitar 0.5 menit sudut). Meski hilal sudah sangat besar, tetap saja tidak akan tampak karena Matahari masih bersinar terang benderang sekitar 20 menit sebelum tenggelam pada jam 18:05. Sementara menurut Djamaluddin, pada maghrib 19 Juli 2012 yang berada di antara garis wujudul hilal (WH, daerah berarsir merah) dan ijtimal sebelum magrib (garis berarsir putih), Bulan berada di atas ufuk. “Dengan dasar ini, saudara-saudara kita yang masih menggunakan kriteria WH akan mulai bersahur malam itu dan berpuasa mulai 20 Juli 2012.” Djamaluddin melanjutkan, garis antara wujudul hilal dan ijtimal adalah garis imkan rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) dengan alat optik (lihat gambar). Ini bisa dijadikan dasar syarat minimal imkan rukyat astronomi dengan menggabungkan syarat minimal ketebalan hilal dan jarak bulan-matahari. Ketinggian hilal saat itu sekitar 6 derajat. Kriteria imkan rukyat kesepakatan di Indonesia 2 derajat berada kira-kira 1/3 bagian dari arsir merah dan arsir biru. Artinya, secara umum di Indonesia ketinggian hilal kurang dari 2 derajat saat maghrib. “Maka kemungkinan terlihatnya hilal saat maghrib 19 Juli mustahil. Maka saudara-saudara kita yang mengamalkan hisab imkan rukyat atau yang menggunakan rukyat akan memulai puasa pada 21 Juli 2012,” papar Djamaluddin. Anda mengawali puasa pada tanggal yang mana? Tentu semua berpulang pada keyakinan Anda masing-masing. Jadi, selamat berpuasa, semoga ibadah shaum tak membuat pelakunya hanya mahir menahan lapar dan haus saja. (Kabar24/sae)

Editor: Saeno

Siapa peraih GRAND PRIZE 1 UNIT MOTOR Tebak Skor & Juara Brasil 2014? Klik DI SINI!.

KOMENTAR