facebook twitter rss

JOKOWI GUBERNUR DKI: Jangan Sampai Maling Beraksi!

Linda Tangdialla Senin, 24/09/2012 06:00 WIB
Joko Widodo/Jibiphoto
Jibiphoto
Joko Widodo
Linda Tangdialla   “inilah karakter pemimpin yang sudah hilang di bumi indonesia, kita butuh ratusan pemimpin-pemimpin seperti ini lahir dibumi indonesia sederhana, jujur dan adil.” Begitu komentar sahabat di laman facebook saya menanggapi kemenangan pasangan Jokowi-Basuki  dalam pilkada Jakarta putaran dua, Kamis (20/9). Seorang supir taksi juga mengidentifikasi Jokowi sebagai pemimpin impiannya. Dia mengaku muak melihat korupsi merajalela, melibatkan begitu banyak petinggi partai dan anggota parlemen—yang mestinya menjadi contoh baik bagi masyarakat. Baginya, Jokowi itu bersih. Ketika saya mengatakan bahwa memperbaiki Jakarta itu tidak  bisa seperti sulap sim salabim, bahwa butuh waktu panjang dan mungkin harapan masyarakat terhadap Jokowi terlalu berlebihan, dengan cepat sang supir taksi berwarna putih itu menukas, apapun itu pokoknya gubernur DKI harus ganti. Yang mengherankan, hampir semua supir taksi yang saya temui berbicara dengan nada dan harapan yang sama: Perubahan! Jokowi-Basuki  dan tim suksesnya  dengan cerdas memanfaatkan kerinduan mendalam rakyat terhadap  perubahan, dengan mengusung tema Jakarta Baru. Kisah sukses mereka mirip dengan keberhasilan Barack Obama masuk ke Gedung Putih dengan menawarkan perubahan, “Change we can believe in,”  kepada rakyat Amerika yang sudah tak suka lagi dengan George W. Bush. Pemilihan gubernur Jakarta berjalan begitu menarik sehingga menyedot perhatian sampai ke luar Jawa. Seorang teman pengelola portal berita daerah mengaku animo pembaca website-nya di Sulawesi dan Indonesia Timur terhadap  informasi seputar pilkada di Ibu Kota meningkat tajam. Sebuah diskusi menyimpulkan kemenangan Jokowi-Basuki akan menjadi benchmark bagi pilkada di daerah lainnya dan pemilihan presiden 2014, memengaruhi strategi partai-partai politik dalam menggalang suara. Dalam pemilihan secara langsung sosok sang tokoh adalah hal yang utama. Bagaimana karakternya? Track-record-nya? Bersihkah dia?  Bagaimana kemampuannya? Bagaimana dia menghadapi tekanan? Apa visi-misinya? Mau berapa pun jumlah partai yang mendukung, sekuat apapun mesin partai, penilaian berada langsung di tangan rakyat. Masalahnya, di era informasi dan reformasi ini tak ada lagi hal yang bisa ditutup-tutupi. Warga melihat sendiri di televisi berbagai berita tentang  pentolan-pentolan partai politik ternama terjerat kasus mega korupsi. Jadi, bagaimana orang percaya ketika para petinggi parpol besar pendukung Fauzi Bowo  bicara tentang pemerintahan yang bersih, mengenai nilai-nilai baik? Selain media visual, yang dapat mengangkat atau menghancurkan citra seseorang, peran media sosial juga tak dapat disepelekan. Jika seorang calon memiliki nilai-nilai unggul maka akan mudah ‘menjualnya’ di media sosial. Hasil riset menunjukkan bahwa di facebook maupun twitter,  jumlah pernyataan positif tentang Jokowi lebih banyak dibandingkan pesaingnya. Ketika dia disudutkan dengan isu SARA, popularitasnya di media sosial malah naik. Tetapi ini tidak bisa di balik, yakni  mencalonkan diri dulu lalu berharap media komunikasi  bekerja membersihkan citra sang politisi dari catatan-catatan miring dirinya. Pada masa sekarang sesuatu yang palsu, dibuat-buat, dan yang sifatnya polesan tak akan bertahan lama. Persoalannya, seperti kata Jokowi: Jangan sepelekan kecerdasan rakyat! Dana kampanye nggak berseri—disebut-sebut ada calon gubernur DKI yang menghabiskan sampai Rp1 triliun untuk  pilkada—plus mesin politik yang luar biasa besar ternyata jadi macan ompong ketika berhadapan dengan kekuatan pilihan rakyat. Dengan modal kepercayaan kuat dari rakyat wajar jika harapan membumbung pada pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih, termasuk yang kurang masuk akal seperti  masalah kemacetan akan selesai jika Jokowi jadi gubernur, atau pedesterian berubah  nyaman dimana-mana seperti di kota-kota  Eropa! Masalah Jakarta begitu kompleks, sehingga boleh jadi  jika  gubernur baru grasa-grusu, dampaknya malah kacau balau. Tapi kalau terlalu pelan, orang bakal frustrasi. Jadi, silakan saja jika Jokowi sesudah menjadi gubernur DKI masih ingin blusukan (masuk) ke gang-gang sempit menyapa masyarakat, asal perhatikan persoalan-persoalan lain juga yang tak kalah penting. Kalau keasyikan, bisa-bisa ‘tikus-tikus’ memanfaatkan dengan beraksi menggerogoti atau memanipulasi APBD dan peluang untuk mengubah Ibukota menjadi Jakarta Baru pun terbuang percuma. Jangan sampai Jokowi menang, maling beraksi, seperti peristiwa Kamis lalu saat copet berhasil menggasak peralatan kerja wartawan di tengah antusiasme begitu banyak orang, yang berdesak-desakkan, menyambut kedatangan Jokowi di Posko Pemenangan Jl. Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, tak lama setelah perhitungan cepat memastikan kemenangannya dalam pilkada Jakarta. (Kabar24/lt)

Editor: Linda Tangdialla

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

KOMENTAR