facebook twitter rss

KPK VS POLRI: Dari Jumat Keramat ke Sabtu Laknat

Saeno Sabtu, 06/10/2012 15:19 WIB
Logo Save KPK Save Indonesia di jejaring sosial/ Facebook
Facebook
Logo Save KPK Save Indonesia di jejaring sosial

Saeno M Abdi

JAKARTA -- Berita tentang dua lembaga penegak hukum sepanjang Jumat (5/10) sampai Sabtu (6/10) dinihari mendominasi kabar24 dan media lainnya di tanah air.

Bahkan, pemanasan dimulai sejak Kamis (4/10) malam yang memberitakan rencana KPK menahan Irjen DS terkait dugaan korupsi proyek pengadaan simulator SIM.

Pada Jumat siang, kabar Irjen DS datang ke KPK menjadi sorotan. Apalagi, kemudian diketahui bahwa ternyata pada saat itu para pimpinan KPK sedang tidak ada di tempat.

Termasuk Ketua KPK yang menghadiri pemakaman keluarganya di Makassar. Padahal, sebelumnya Abraham sempat berkata akan menunggu di lantai 3 menunggu penyidik dari lantai 7 Gedung KPK menyerahkan surat perintah penahanan yang harus ditandatanganinya.

Rupanya kehebohan tak cukup hanya sampai pada soal Jumat Keramat yang tidak keramat lagi. Publik tiba-tiba dikejutkan dengan kabar "pengepungan" KPK oleh sejumlah polisi yang akan menangkap Kompol N, salah satu penyidik di KPK yang menolak kembali ke pangkuan Polri dan memilih untuk terus berkarier di KPK.

Kompol N dikabarkan melakukan tindak kekerasan yang mengakibatkan tewasnya seorang warga Bengkulu. Namun, belakangan soal ini dibantah Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto pada konferensi pers yang dilangsungkan Sabtu dinihari.

Bahkan, Bambang yang memberikan keterangan pers didampingi Ketua KPK Abraham Samad dan Wakil Menkumham Denny Indrayana membuka sejumlah informasi.

Mulai dari adanya upaya menjemput Kompol N menemui Korsespri Kapolri hingga adanya upaya teror yang bahkan disebut-sebut dilakukan seseorang dari detasemen khusus Polda Metro.

Teror juga ditengarai dialami penyidik KPK lainnya. Itu sebabnya, Bambang menyatakan memutuskan untuk melindungi Kompol N, penyidik KPK lainnya dan elemen yang selama ini bekerja sama dengan KPK.

Dalam jumpa pers terkait kedatangan pihak kepolisian ke KPK, Mabes Polri sempat menggelar jumpa pers untuk klarifikasi keberadaan provost.

Jumpa pers tersebut juga dihadiri Direktur Kriminal Umum dari Polda Bengkulu, Kombes Pol Dedy Rianto. Dedy menyebutkan bahwa Kompol N, saat masih bertugas sebagai Kasat Serse di wilayah Polda Bengkulu telah melakukan tindakan yang membuat seseorang meninggal. Peristiwa itu terjadi tahun 2004, saat Kompol N masih berpangkat Iptu.

Tapi tuduhan itu dibantah Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. Ia menyebutkan yang melakukan tindak kekerasan itu adalah anak buah Kompol N. Walau begitu, Kompol N telah mengambil tanggungjawab anak buah dan dia menerima hukuman berupa peringaran keras.

Sikap KPK yang melindungi Kompol N dan penyidik KPK lainnya serta sinyalemen dari Bambang Widjojanto bahwa surat perintah penangkapan belum mendapat persetujuan pengadilan dan belum disertai nomor surat perintah menjadi penutup insiden di KPK.

Tapi, kejadian itu menjadi penanda bahwa Sabtu (6/10) dinihari menjadi hari laknat, hari yang ditandai berbagai cemooh, kekesalan dan kemarahan yang diungkap di berbagai ruang, termasuk di ruang media jejaring sosial. Semua itu ditumpahkan dan menodai sejarah perjalanan penegakan hukum di Indonesia. (Kabar24/sae)

Editor: Saeno

KOMENTAR