facebook twitter rss

JARINGAN TERORIS INDONESIA: Polri Khawatir Santri Darul Akhfiya Dibina Jadi Teroris

Saeno Selasa, 13/11/2012 15:25 WIB
Polisi berjaga di depan rumah kontrakan yang digunakan sebagai lokasi aktivitas Pondok Darul Akhfiyah di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Ngajuk, Jawa Timur, Selasa (13/11)/Jibiphoto
Jibiphoto
Polisi berjaga di depan rumah kontrakan yang digunakan sebagai lokasi aktivitas Pondok Darul Akhfiyah di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Ngajuk, Jawa Timur, Selasa (13/11)

Newswire

SUKABUMI - Pihak kepolisian khawatir sejumlah santri yang berada di Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Nganjuk, Jawa Timur sedang dibina untuk menjadi teroris.

Kekhawatiran itu didasarkan pada kenyataan di Ponpes tersebut ditemuka sejumlah buku jihad serta beragam senjata. Sementara, para penghuni pondok tergolong masih remaja.  

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Polisi Boy Rafli Amar mengatakan Polri masih mendalami kasus penangkapan 49 santri di Ponpes tersebut.

 “Ini merupakan laporan dari masyarakat yang merasa resah dengan aktifitas para santri di Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk yang melakukan aktifitas latihan seperti perang dan membawa senjata tajam, dan saat ini kami masih mendalami kasus tersebut,” kata Boy Rafli kepada wartawan di sela pelantikan siswa Sekolah Pembentukan Perwira Polri, Selasa (13/11).

Menurutnya, penangkapan puluhan santri yang sudah dievakuasi ke Polres Nganjuk ini juga untuk mengantisipasi aksi anarkistis dari warga sekitar.

Polisi masih mengamankan lokasi Ponpes Darul Akhfiya karena khawatir ada tindakan dari warga sekitar.

“Saat ini kami sedang menyelidiki kasus ini dan memeriksa para santri tersebut untuk mengungkap kasus tersebut,” tambahnya.

Dikatakan Boy Rafli, dari lokasi polisi telah menyita sebuah senjata laras panjang, senjata tajam, serta buku-buku dan VCD yang berisi tentang jihad. Selain itu, di ponpes itu juga ditemukan lapangan yang diduga digunakan untuk latihan militer para santri.

“Ponpes dan kontrakan para santri ini masih dijaga dan polisi telah menurunkan Densus 88 Anti Teror untuk melakukan penyelidikan di lokasi. Mayoritas, santri yang mondok di pesantren tersebut masih usia remaja atau belasan tahun, yang kami khawatirkan mereka dibentuk menjadi teroris, maka dari itu kami terus mengembangkan dan menyelidiki kasus ini,” kata Boy Rafli. (JIBI/Antara/sae)

Editor: Saeno

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

KOMENTAR