facebook twitter rss

KONFLIK AHMADIYAH: Persoalan Belum Dituntaskan, Korban Merasa Tak Aman

Andhina Wulandari Senin, 04/02/2013 16:46 WIB
Ilustrasi/Antara
Antara
Ilustrasi

Miftahul Ulum

JAKARTA--Persoalan akibat konflik Ahmadiyah yang muncul pada 2006 belum ditangani secara tuntas hingga kini, sehingga menyebabkan perasaan tak aman dari para korban kekerasan.

Sementara di sisi lain, 35 kepala keluarga Ahmadiyah di Mataram, Nusa Tenggara Barat masih tinggal di pengungsian selama tujuh tahun terakhir. Tinggal di sebuah aula gedung transito, pengungsi mendiami bilik-bilik berdinding kardus.

Selain itu mereka juga tidak bisa mendapat kartu tanda penduduk sehingga tak bisa mengakses layanan kesehatan.

"Bagaimanapun mereka warga negara yang harus dipenuhi haknya ," jelas Bonar Tigor Naipospos, Wakil Ketua Setara Institute, organisasi pendamping korban kekerasan terhadap Ahmadiyah, Senin (4/2).

Firdaus Mubarik, warga Ahmadiyah, mengaku sampai saat ini selalu ada pengungsi korban kekerasan. Bahkan ada 40 anak asal NTB yang mengungsi di daerah Jawa Barat agar bisa mendapat pendidikan.

Peneliti Setara Institute Ismail Hasani menilai pemerintah pusat seharusnya membuat terobosan kebijakan. Terlebih UU No26/2000 tentang Hak Asasi Manusia jelas menjamin adanya ganti rugi, kompensasi maupun rehabilitasi korban kekerasan.

"Jika kasus ini tidak selesai, kekerasan serupa mengancam minoritas yang lain," tegasnya. Di sisi lain, bila selama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono persoalan ini tidak tuntas maka akan menjadi preseden buruk pemerintahan.

Juru Bicara Ahmadiyah, Zafrullah Ahmad Pontoh, menilai negara sebagai pengemban amanat konstitusi bagaimanapun harus menjamin hak hidup warganya. Bila fungsi itu tidak dijalankan maka peran negara semakin hilang. (JIBI/aw)

Editor: Andhina Wulandari

Siapa peraih GRAND PRIZE 1 UNIT MOTOR Tebak Skor & Juara Brasil 2014? Klik DI SINI!.

KOMENTAR