facebook twitter rss

Kekerasan Pada Anak di Indonesia Cenderung Meningkat

Sabtu, 02/03/2013 14:17 WIB
Ilustrasi/Playborhood
Playborhood
Ilustrasi

Rahmayulis Saleh

JAKARTA-- Kasus kekerasan terhadap anak cenderung meningkat di Indonesia. Masalah ini menjadi perhatian bagi semua institusi.

"Menurut data, tiga dari 100 anak Indonesia mengalami kekerasan. Sebagian besar atau 70,5%, pelakunya adalah orang di sekitar rumah," kata Menko Kesra Agung Laksono, terkait hasil Rakor Tingkat Menteri mengenai Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, Jumat malam (1/3) di Jakarta.

Itu merupakan data terakhir dari Susenas pada 2006. Saat itu ada sekitar 2,81 juta tidak kekerasan, dan sekitar 2,91 juta anak pernah menjadi korban kekerasan, atau 3% dari populasi anak Indonesia.

Sementara itu, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2012, masalah KTA yang dilaporkan masyarakat ke lembaga itu ada sebanyak 3.871  kasus.

Sedangkan hasil pemantauan KPAI melalui survei cepat terhadap 1.026 siswa SD, SMP, dan SMU di 9 provinsi, menemukan anak sebagai pelaku kekerasan mencapai 78,3%. Selain itu kekerasan anak di masyarakat sebesar 80,2%, dan kekerasan anak di sekolah 87,6%, serta kekerasan anak dalam keluarga tercatat 91%.

Menko Kesra mengatakan memang belum ada data kekerasan terhadap anak (KTA), secara nasional yang up to date. "Penyebab KTA ini bisa karena kemiskinan, budaya, lingkungan, dan pola asuh," katanya.

Dalam Rakor tersebut hadir antara lain Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan dari Mabes Polri.

Menteri Linda mengatakan pentingnya memperkuat ketahanan keluarga untuk mengurangi tindak KTA. "Orangtua harus siap jadi ibu dan bapak, baik dari segi ekonomi dan pendidikan," katanya.

Pemerintah, lanjut Linda, memang belum memiliki data sendiri atas KTA, yang selama ini selalu merujuk pada data dari KPAI. Namun, pada tahun ini pemerintah akan memiliki data sendiri.

"Itu menjadi program kamoi pada 2013 ini, bekerjasama dengan Kementerian Sosial dan Badan Pusat Statistik," ungkap Linda.

Wamenkes Ali Ghufron menambahkan KTA adalah masalah sosial, yang berdampak besar pada aspek kesehatan. Yaitu berpengaruh buruk terhadap proses tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikologis.

Menurut dia, anak usia 0-18 tahun, masih berada dalam proses tumbuh kembang. "Gangguan pada salah satu tahapan tumbuh kembang anak akibat kekerasan, akan berdampak pada penurunan kualitas hidup," ujarnya. (JIBI/nel)

Editor:

KOMENTAR