facebook twitter rss

KASUS CEBONGAN

KontraS Minta Pelaku Tak Divonis Hukuman Mati

Newswire Kamis, 20/06/2013 20:26 WIB
Lapas Cebongan/Jibiphoto-Gigih M Hanafi
Jibiphoto/Gigih M Hanafi
Lapas Cebongan

KABAR24.COM, JAKARTA--Para prajurit Kopassus yang menjadi terdakwa dalam kasus penyerangan ke Lapas kelas IIB Cebongan, Sleman, diminta tidak dijatuhi vonis hukuman mati.

Permintaan itu disampaikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, KontraS, demi perlindungan hak asasi manusia.

"Ancamannya hukuman mati, padahal rumusnya itu tidak ada dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM," kata Koordinator KontraS Haris Azhar di Jakarta, Kamis (20/6).

Menurut dia, Oditur Militer diharapkan tidak menuntut terdakwa dengan hukuman mati, melainkan hukuman paling tinggi seumur hidup.

Haris juga mengkhawatirkan adanya dakwaan yang tidak adil mengingat penyerangan yang terjadi Sabtu (23/3) dini hari itu diduga kuat dilakukan secara terencana di mana setiap terdakwa memiliki peran berbeda.

"Saya rasa tidak fair, mereka sama-sama punya motif membunuh, tapi nanti dakwaannya yang satu membunuh yang satu cuma merusak CCTV," katanya.

Haris juga menyayangkan dakwaan yang dijatuhkan kepada para terdakwa hanya membidik pelaku yang terlibat dalam penyerangan di Lapas.

Padahal, menurutnya, pelaku yang terlibat dalam aksi penganiayaan dan pembunuhan di Hugo's Cafe, peristiwa yang menjadi awal sebab kasus di Cebongan, juga patut diungkap dan diadili.

Meski sedikit aneh karena lembaga ini justru menentang terdakwa dieksekusi mati, diungkapkan Haris bahwa tujuan keadilan bukanlah sekadar hukuman mati atau tidak, melainkan adanya hukuman yang layak dan memastikan peristiwa serupa tak terulang.

Seperti diberitakan, terdakwa eksekutor kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cebongan, Sleman, Serda Ucok Tigor Simbolon dijerat dengan pasal berlapis dalam sidang perdana yang berlangsung di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Kamis.

Dalam sidang yang dipimpin Majelis Hakim Letkol Chk Dr Joko Sasmito, Mayor Sus Tri Ahmad B, dan Mayor Laut KH/W Kurniawati Syarif tersebut Ucok bersama dengan Sersan Dua Sugeng Sumaryanto, Kopral Satu Kodik tersebut secara primer dengan pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) jo pasal 55 (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman mati.

Ketiga tersangka juga dijerat dengan pasal 338 KUHP jo pasal 55 (1) ke-1 KUHP. Lebih subsider mereka dijerat dengan pasal 351 (1) Jo ayat (3) KUHP jo pasal 55 (1) ke-1 KUHP dan pasal 103 ayat (1) jo ayat (3) ke-3 KUHP Militer.

Terdakwa Ucok merupakan eksekutor dalam penyerangan Lapas Cebongan. Dia yang menembak mati empat tahanan titipan Polda DIY.

Aksi penembakan terhadap tahanan titipan Polda DIY yang merupakan tersangka pengeroyokan Serka Heru Santosa anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan hingga mengalami luka tusuk pada dada dan meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit atas dasar solidaritas. (Antara)

Editor: Saeno

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

KOMENTAR