facebook twitter rss

Hukuman Bagi Pengguna Narkoba Bakal Lebih Ringan

Demis Rizky Gosta Kamis, 18/07/2013 22:23 WIB
Ilustrasi, Kerusuhan di Rutan Tanjung Gusta Medan/Antara
Antara
Ilustrasi, Kerusuhan di Rutan Tanjung Gusta Medan

Kabar24.com, JAKARTA - Kasus rutan atau penjara rusuh gara-gara kelebihan kapasitas membuat hukuman bagi terpidana pengguna narkoba bakal lebih ringan.

Kementerian Hukum dan HAM mendorong hukuman rehabilitasi bagi terpidana pengguna narkoba untuk mengurangi beban rumah tahanan (rutan)

Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin memaparkan saat ini hampir setengah dari narapidana yang menjalani hukuman di seluruh rutan di Indonesia adalah terpidana kasus narkoba.

Jumlah narapidana kasus narkoba mencapai 56.000 orang dari 117.000 narapidana penghuni rutan.

Sebagian besar napi narkoba, jelasnya, dijebloskan ke penjara karena terbukti menggunakan zat terlarang. Hanya sebagian kecil dari napi-napi tersebut yang dihukum karena mengedar dan/atau memproduksi narkoba.

Amir mencontohkan jumlah terpidana bandar/pengedar narkoba di rutan di Batam yang hanya 49 orang dari total jumlah tahanan kasus narkoba yang sekitar 1.600 orang.

"Separuh dari isi lapas itu adalah terkait kasus narkoba. Suatu saat napi narkotika mayoritas. Saya kira ini ada suatu indikasi yang kurang sehat," kata Menkumham di Kantor Presiden, Kamis (18/7).

Amir mengatakan pengurangan jumlah terpidana pengguna narkoba yang dihukum penjara bisa membantu mengatasi permasalahan 'overcapacity' rutan di Indonesia. Pengurangan, jelasnya, bisa dilakukan dengan mengirim terpidana pengguna narkoba ke pusat rehabilitasi.

Kementerian Kesehatan, tambahnya, bisa terlibat melalu pembukaan sel tahanan rehabilitasi di rumah sakit milik pemerintah. Fasilitas tambahan tersebut dinilai bisa mengurangi beban Badan Narkotika Nasional yang selama ini menjadi satu-satunya lembaga yang ditugasi mengelola rehabilitas narkoba.

"Fasilitas RS umum bisa digunakan untuk buka sel rehabilitasi. Selama ini, rehabilitasi tugas umum BNN dan diarahkan ke RS jiwa dan tidak menarik," kata Amir. (JIBI/Bisnis.com)

 

Editor: Linda Tangdialla

KOMENTAR