facebook twitter rss

RATU ATUT dan Chairun Nisa Tersangka, Elektabilitas Golkar Terancam

Newswire Jum'at, 11/10/2013 16:14 WIB
Ilustrasi-Dua ekspresi berbeda antara Chairun Nisa (kiri) dan Ratu Atut Chosiyah (kanan) saat berada di KPK./Antara-Jibiphoto
Antara/Jibiphoto
Ilustrasi-Dua ekspresi berbeda antara Chairun Nisa (kiri) dan Ratu Atut Chosiyah (kanan) saat berada di KPK.

Kabar24.com, JAKARTA –Kasus suap pilkada Kabupaten Gunung Mas dan Kabupaten Lebak dinilai mempengaruhi elektabilitas Partai Golkar.

Pengamat politik UI Arbi Sanit menyebutkan, kasus yang menjerat Chairun Nisa dan Ratu Atut Chosyiah terkait kasus suap sengketa Pilkada yang melibatkan Akil Mochtar berakibat pada menurunnya elektabilitas dan popularitas Golkar.

Terkait kondisi itu, Arbi mengatakan, Partai Golkar mengambil sikap hati-hati menjelang Rapimnas ke-IV terkait kadernya yang terjerat kasus dugaan suap Ketua MK nonaktif Akil Mochtar.

"Golkar akan sangat hati-hati karena kasus itu (Akil Mochtar) membuat masyarakat tidak percaya terhadap partai tersebut," kata Arbi Sanit, Jumat 11 Oktober 2013.

Dia mengatakan terjeratnya kader Golkar dalam kasus Akil sangat memengaruhi mundurnya jadwal penyelenggaraan Rapimnas.

Rapimnas tersebut semula dijadwalkan dilaksanakan pada 20 Oktober 2013, namun diundur menjadi pertengahan November mendatang.

"Pasti orang Golkar membantah apabila dikaitkan mundurnya Rapimnas dengan kadernya yang terjerat kasus dugaan suap di Mahkamah Konstitusi," ujar Arbi.

Arbi menilai kasus yang menjerat Chairun Nisa dan Ratu Atut Chosyiah berdampak besar bagi partai yang dipimpin Abu Rizal Bakrie tersebut.

Hal itu menurut dia, berakibat pada menurunnya elektabilitas dan popularitas Golkar.

"Komitmen Golkar dalam pemberantasan korupsi (menjadi) tidak jelas di pandangan masyarakat," kata Arbi.

Arbi menilai setiap orang menunggu komitmen dari semua partai politik untuk tidak korupsi.

Karena itu, menurut dia, sangat logis apabila ada partai yang kadernya terjerat kasus korupsi maka kepercayaan masyarakat terhadap parpol tersebut menurun.

"Misalnya setelah Rapimnas Golkar lalu muncul kasus lain yang mendera partai itu maka komitmen Golkar semakin diragukan dalam pemberantasan korupsi," kata Arbi.

Rapimnas Partai Golkar ke-IV sedianya dilakukan tanggal 20 Oktober 2013.

Namun, kegiatan itu diundur hingga pertengahan November karena persoalan persiapan tempat dan materi rapimnas yang belum mantap.

Beberapa kalangan internal Golkar juga membantah penundaan tersebut terkait dengan terseretnya kader partai itu dalam kasus dugaan suap Akil Mochtar.

Dalam kasus tersebut, anggota Komisi II DPR dari Golkar Chairun Nisa sudah ditetapkan KPK sebagai tersangka terkait sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Selain itu, Gubernur Banten Ratu Atut Chosyiah sudah dicekal KPK karena diduga mengetahui pemberian suap kepada Akil terkait sengketa Pilkada Kabupaten Lebak, Banten. (Antara)

Editor: Saeno

Siapa peraih GRAND PRIZE 1 UNIT MOTOR Tebak Skor & Juara Brasil 2014? Klik DI SINI!.

KOMENTAR