facebook twitter rss

HARGA MOBIL LISTRIK: Harus Lebih Murah dari Avanza

Andhika Anggoro Selasa, 24/07/2012 15:05 WIB
Menneg BUMN Dahlan Iskan melakukan uji coba mobil listrik produksi PT Sarimas Ahmadi Pratama, Depok/Jibiphoto/Nurul Hidayat
Nurul Hidayat
Menneg BUMN Dahlan Iskan melakukan uji coba mobil listrik produksi PT Sarimas Ahmadi Pratama, Depok/Jibiphoto
Newswire JAKARTA – Pasar mobil Indonesia yang masih didominasi oleh mobil buatan Jepang membuat Menko Perekonomian Hatta Rajasa berharap harga mobil listrik nasional bisa lebih murah dari perkiraan sehingga bisa disebut sebagai mobil rakyat. "Harga mobil listrik seharusnya lebih murah dari harga mobil Avanza sebagai mobil yang digunakan banyak kalangan di Indonesia," katanya di Kantor Menko Perekomian, Jakarta, Senin. Menurut dia, pemerintah bertekad meluncurkan mobil listrik nasional karena memang potensi untuk mengembangkannya sangat besar dibandingkan dengan mengembangkan mobil berbahan bakar minyak. "Kita menyebut sebagai mobil listrik nasional karena otaknya, ototnya buatan anak bangsa. Kita harapkan tingkat komponen dalam negeri bisa mencapai di atas 70 persen," ujarnya. Ia pun optimistis dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan "mobil sejuta umat" (Avanza), maka mobil listrik akan sangat diminati masyarakat karena tidak lagi menggunakan BBM. Meski begitu Hatta tidak menyebutkan harga pasti mobil listrik nasional tersebut karena disesuaikan dengan jenis atau type yang akan dikembangkan pemerintah. "Kita akan memproduksi tiga jenis mobil listrik yaitu untuk angkutan umum, angkutan barang (mobil niaga), dan city car. Untuk tahap awal pada 2014, kita akan memproduksi sebanyak 10.000 unit yang akan didominasi city car,"  ujarnya. Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan memperkirakan nilai mobil listrik jenis city car bermerek Ahmadi Mesin 5.0 sekitar Rp200 juta per unit. Saat ini selain prototype mobil listrik hasil karya Dasep Ahmadi dengan nama Ahmadi Mesin 5.0 ini, empat prototipe mobil listrik lainnya sudah selesai, yaitu sekelas Carry, sekelas Avanza, Yaris, dan Ferrari. Seluruh jenis mobil listrik tersebut "dikeroyok" lima orang putra bangsa yang disebut sebagai "Pendawa Putra Petir". Sementara itu, Mendikbud Mohammad Nuh mengatakan sesungguhnya Indonesia sejak tahun 2003 sudah mampu menciptakan mobil, namun sulit dikembangkan karena harus bersaing dengan pabrikan otomotif yang sudah mapan. "PT INKA, PT Dirgantara Indonesia, sudah puluhan tahun lalu membuat mobil berbahan bakar BBM, demikian juga sejumlah perguruan tinggi terkemuka seperti ITB, UI, UGM, ITS, namun tidak dikembangkan karena dipastikan kalah dengan ATPM yang sudah ada di Tanah Air," ujar Nuh. Karena itu diutarakannya, sudah saatnya pemerintah menghimpun kekuatan semua potensi yang ada mulai perguruan tinggi, dengan melibatkan semua pemangku kepentingan. "Untuk memproduksi mobil listrik secara massal melibatkan Kemendikbud sebagai pusat riset dan pengembangan, lalu Kementerian Perhubungan, Kemenristek, Kementerian BUMN, Kementerian BUMN, BPPT, termasuk dengan perguruan tinggi yang ditunjuk yaitu ITB, UI, UGM, ITS, UNS, dan Politeknik Manufaktur, Bandung." (Antara/ad)

Editor: Andhika Anggoro

KOMENTAR