facebook twitter rss

LADY GANGGA dan Lady Gaga

Saeno Jum'at, 25/05/2012 15:29 WIB
Rohmad Hadiwijoyo/Dalang & CEO RMI Group Untuk kesekian kalinya masyarakat kita terbelah dalam dua kubu ekstrem. Kali ini pemicunya adalah rencana konser Stefanie Joanne Angelina Germanotta, atau yang ngetop dengan nama Lady Gaga. Sebelumnya, dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, meski dengan tingkat kehebohan yang berbeda, masyarakat kita juga terpola dalam dua kubu dalam soal kedatangan Irshad Manji, tokoh transeksual yang gagasan-gagasannya tentang Islam menuai kontroversi. Seperti halnya polarisasi yang sudah kerap kita alami, pada akhirnya yang terjadi adalah perpecahan dan keterbelahan masyarakat. Meskipun itu baru sebatas pada tataran sikap dan opini, tapi kita layak prihatin dan sedih karena terbukti bangsa ini tidak memiliki konsensus atau platform yang sama, sebagai pijakan dan acuan bersama dalam merespon sebuah masalah. Akibatnya selalu ada pihak yang kalah atau merasa dikalahkan, ada pihak yang menang atau merasa dimenangkan. Seolah-olah kita sedang berada dalam situasi perang, zero sum game, harus ada yang menang dan kalah. Tidak ada titik temu yang memungkinkan kita mengakhiri perbedaan dalam suasana sama-sama menang, win win solution. Situasi seperti ini jelas tidak bisa terus menerus dibiarkan. Belajarlah dari kearifan budaya kita, yang memberi petuah sangat gamblang, bahwa kegagalan berkepanjangan dalam menemukan resolusi konflik akan berakibat fatal dan tragis. Masa depan sebuah bangsa menjadi taruhan. Kocap kacarita. Raja Hastina Prabu Sentanu sudah lama mengidamkan seorang permaisuri. Seorang pendamping hidup yang tidak hanya teman dalam mengisi hari-hari yang melelahkan dan malam-malam panjang yang sepi, tapi juga menjadi jalaran dari lahirnya anak cucu untuk menjaga kelangsungan wangsa Bharata. Sayangnya, dia mematok kriteria yang tidak sederhana untuk calon istrinya. Bukan seorang putri anak raja diraja, tapi seorang dewi yang mengalir dalam dirinya darah bidadari Kahyangan. Kendati berbagai ikhtiar telah diupayakan, termasuk tak henti berdoa dan bermunajat, tapi dewi dambaan hati tak kunjung mewujud dalam kenyataan. Sentanu mulai dilanda resah, seiring usianya yang makin tua. Begitu pula para sesepuh kerajaan. Mereka melihat ancaman keruntuhan Hastina sudah di depan mata, bukan karena serangan musuh atau bencana alam, tapi karena tidak adanya keturunan raja. Para pandita, resi, begawan, punggawa istana dan para kesatria, bahkan rakyat seisi kerajaan, larut dalam doa memohon welas asih dewata untuk memenuhi hasrat sang raja. Dan welas asih dewa memang ada. Pada suatu hari ditakdirkanlah Sentanu bertemu Dewi Gangga, perempuan muda ayu rupawan yang tak lain bidadari Kahyangan yang dititahkan turun ke mayapada. Sentanu yang yakin telah menemukan kekasih idaman hatinya, langsung mengajukan lamaran. Ia berjanji memenuhi apa saja permintaan sang dewi. Dewi Gangga tak banyak mengajukan permintaan. Ia bersedia menjadi permaisuri kerajaan Hastina dengan syarat tujuh anak yang akan lahir dari perkawinan mereka harus dipersembahkan kepada dewa. Karena sudah dipenuhi hasrat untuk segera menikah dengan pujaan hatinya, Sentanu tak berpikir panjang. Dengan bersemangat ia menyatakan siap memenuhi permintaan itu. Maka keduanya pun segera mengikat tali perkawinan, disambut kegembiraan dan rasa bahagia seluruh warga kerajaan. Berakhirlah tahun-tahun panjang penantian dan harapan. Mereka kini patut untuk optimis masa depan Hastina akan berlimpah dengan kebesaran dan kegemilangan. Resolusi konflik Ketika pada saatnya lahir anak pertama, tanpa basa-basi Dewi Gangga langsung membawanya ke tepi Sungai Gangga, dan menghanyutkan jabang bayi itu. Kendati bersedih karena buah hati dambaannya harus pergi dan tak kembali, Sentanu mencoba untuk berbesar hati. Sesuai konsensus bersama yang telah disepakati dengan Dewi Gangga, itulah persembahan untuk dewa. Begitulah yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Setiap lahir bayi, hari itu juga dilarung di Sungai Gangga. Sentanu harus bersabar dan menahan hasrat untuk memiliki seorang putra, pangeran yang akan menjadi penerus tahta Hastina. Ia masih ingin menjaga kebersamaan dengan permaisuri, meski harga yang dibayar untuk kompromi itu demikian mahalnya. Akan tetapi kesabaran manusia ada batasnya. Sentanu merasa usianya sudah makin tua, dan tidak yakin akan bisa menghadirkan keturunan saban tahun. Maka ketika lahir anak ke tujuh, dia meminta dengan sangat agar bayi itu tidak dihanyutkan. Ia meminta Gangga memahami posisinya, usianya, dan harapan besarnya untuk memiliki seorang putra. Tapi Gangga bersikukuh dengan pendiriannya. Bayi itu harus dipersembahkan kepada dewata, sebagaimana janji Sentanu sebelum keduanya menikah. Ia meminta Sentanu bersabar setahun lagi, karena anak ke delapan akan bisa ia miliki dan akan menjadi pelanjut generasi Bharata. Sentanu tetap bersikeras dengan keinginannya, dan ia yakin didukung oleh seluruh rakyat Hastina tanpa kecuali. Gangga bersikukuh dengan kemauannya, dan ia yakin didukung sepenuhnya oleh seluruh penghuni Kahyangan. Titik temu tidak berhasil dicapai, konflik keduanya kian mengeras dan menajam. Akhirnya tidak ada pilihan lain bagi Gangga. Ia memutuskan mengakhiri hubungan suami istri dan kebersamaan yang telah sekian lama terbangun. Dengan berat hati Sentanu meluluskan keinginan itu. Kegagalan menemukan resolusi konflik berakibat fatal dengan berakhirnya rumah tangga harmonis yang telah terbina. Gangga kembali ke Kahyangan dengan pesan agar Sentanu membesarkan jabang bayi dengan hati-hati. Sebab anak itu kelak akan menjadi musabab dari perpecahan di kalangam wangsa Bharata yang berujung pada akhir yang tragis dan memilukan. Sentanu memberi nama anak semata wayang itu Dewabrata alias Bhisma. Dengan segenap kasih sayang ia mendidik dan membesarkannya. Dan memang Bhisma tumbuh menjadi anak muda yang berbudi luhur, berilmu pengetahuan luas, cakap dan sigap, dengan ilmu kanuragan yang susah dicari tandingnya. Tetapi apa yang diwasiatkan Dewi Gangga pada akhirnya menjadi kenyataan. Berawal dari keputusannya untuk tidak menikah sepanjang hidup, bersemilah bibit perpecahan dan konflik berkepanjangan di kalangan wangsa Bharata. Perseteruan tanpa titik temu, yang berujung pada perang pamungkas Bharatayuda. (Selengkapnya tentang ini bisa dibaca pada kisah Supata Dewi Amba). Polarisasi dan konflik kepentingan yang menyeruak di sekitar konser Lady Gaga hendaknya tidak dipandang sebelah mata oleh para pemimpin bangsa ini, para pemuka dan tokoh bangsa, serta para cerdik cendekia. Sebagai sebuah bangsa kita makin tidak mampu menemukan titik temu, merumuskan resolusi konflik, yang bisa menenteramkam semua pihak yang bersengketa kepentingan dan pendapat. Dalam banyak kasus kegagalan menemukan resolusi konflik itu harus berakhir dengan bentrokan berdarah yang memakan korban jiwa. Pada banyak kasus lain harus berakhir dengan membuncahnya kekecewaan dan kemarahan karena diabaikan, disisihkan, dan dikalahkan aspirasi dan kepentingannya. Semua karena kelalaian membangun dan memperkuat tata nilai yang menjadi platform dan konsensus bersama. Semua asik berpolitik dan menjadikan politik sebagai panglima. Meski situasinya sudah sedemikian runyam, SOS, tapi belum terlambat untuk secara sungguh-sungguh memikirkan dan menemukan jalan keluar. Mari duduk bersama, dengan kepala dingin, dada lapang, dan hati yang jernih dan bersih. Kalau tidak, maka kita bersama sejatinya tengah merancang skenario dan lakon buram untuk anak cucu kita. Secara ekonomi bisa saja kita terus maju, tapi kemajuan yang tanpa ruh dan tata nilai, tanpa konsensus sebagai platform dasar merumuskan resolusi komflik. Maju tapi rapuh, besar tapi ringkih. Sebagai anak bangsa yang peduli masa depan bersama, Indonesia yang lebih baik, Ki Dalang hanya bisa terus meneriakkan mayday, mayday..... Sebab saya yakin kita semua tidak menghendaki bangsa besar ini meniti jalan yang sama dan melakoni akhir cerita yang sama dengan bangsa Bharata. Sumangga.

Editor: Saeno

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

KOMENTAR