facebook twitter rss

AMIEN RAIS, AHOK, dan Hari Kesaktian Pancasila

Linda Tangdialla Jum'at, 05/10/2012 22:24 WIB
Jokowi-Ahok/Jibiphoto
Jibiphoto
Jokowi-Ahok

 Linda Tangdialla

 Minggu depan, tepatnya 12 Oktober 2012,  jika segalanya berjalan lancar, Jakarta secara resmi memiliki gubernur dan wakil gubernur baru. Sungguh berliku jalan yang dilalui Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama untuk sampai ke Balaikota.

Relatif mudah meyakinkan publik tentang kemampuan keduanya dalam soal kepemimpinan dan manajemen perkotaan. Yang pelik adalah hal di luar itu, yakni tebalnya kecurigaan kalangan tertentu terhadap motivasi keduanya mencalonkan diri, yang kemudian melebar ke hal-hal bersifat SARA.

Pasca kemenangan Jokowi-Ahok pada putaran pertama pilkada Jakarta, isu SARA dimainkan. Hasilnya malah menguntungkan Jokowi-Ahok. Mereka berdua kebanjiran simpati masyarakat.

Bahkan pun setelah Komisi Pemilihan Umum mengesahkan kemenangan Jokowi atas Fauzi Bowo dalam pemilihan tahap dua 20 September lalu, kecurigaan itu masih saja kental, sebagaimana tergambar dalam pernyataan tokoh Partai Amanat Nasional Amien Rais.

Pria yang pernah memperoleh julukan Bapak Reformasi itu mengatakan kemenangan Jokowi-Ahok adalah ancaman terhadap demokrasi. “Sebab, Ahok ini didukung pebisnis. Saya tak menyebutnya etnis,” katanya kepada Solopos.com (29/9).

Menurut dia, barisan pebisnis yang berdiri di belakang pasangan Jokowi-Ahok selama ini berpotensi mencaplok kekuatan politik.

Padahal, kata Amien, kekuatan pebisnis mestinya dikontrol oleh kekuatan politik untuk menciptakan iklim demokrasi yang segar.“Saya terus terang sangat khawatir. Perkawinan politik dan bisnis ini bisa mengancam demokrasi dan kontraproduktif dengan kepentingan rakyat.”

Watak bisnis, lanjutnya, adalah profit dan kerap kali lupa norma hukum. Padahal, yang bisa mengingatkan bahwa bisnis keliru itu adalah kekuatan politik.

“Namun, jika politik sudah dicaplok pebisnis maka masa depan demokrasi di ambang kehancuran.”

Karuan saja muncul banyak reaksi menyayangkan pernyataan tersebut, bahkan tak sedikit yang mengecam.

Ini beberapa komentar yang muncul di Kabar24.com edisi 1 Oktober:

“Sangat disayangkan sekali komentar beginian keluar dari seorang tokoh yang mengaku nasionalis. Dimana rasa nasionalisme Anda sekarang? Komentar beginian kan sangat nggak etis buat seorang tokoh politisi senior. Kalau mau menyalahkan orang tunjukkan dulu bukti-buktinya. Kalo nggak ada kan sama aja dengan memfitnah.Didukung dong yang menang bukan dijatuhkan. Kalo nggak, kapan bisa maju negara kita? Komentar2 busuk seperti ini lah yang memecahbelah persatuan dan kesatuan.”

“Siapa pun yang menang marilah kita dukung bersama-sama. Kita bantu dalam menjalankan visi misinya.”

"Perkawinan politik dan bisnis ini bisa mengancam demokrasi dan kontraproduktif dengan kepentingan rakyat"

“(Amien Rais), saya kira ini perlu direfleksikan untuk PAN sendiri, karena berbagai grup bisnis terkait dengan PAN, misalnya Adaro, Mahaka, dll.”

“Inilah kelemahan yang umum dibangsa kita, jarang yang mau terbuka mengkritisi diri sendiri dan lebih sibuk mengkritisi pihak lain.”

“Ah pak Amien ini aneh, apakah pebisnis bukan bagian dari masyarakat Indonesia? Partai mana yang tidak didukung pebisnis di Indonesia? Agak bias nih.”

“With all due respect to Pak Amien, saya juga agak bingung dan takjub dengan komentar beliau akhir-akhir ini.”

Penghuni Twitter juga riuh berkomentar. Solopos.com mengutip beberapa di antaranya:

“What’s got into Amien Rais?”

“Amien Rais ini mencla-mencle. Memang ada pilkada/pilpres yg nggak pakai duit pengusaha ? Dulu Amin pilpres pakai duit siapa?”

Bagusnya, meski para pendukung dan tim suksesnya terkesan belum legowo menerima kemenangan Jokowi-Ahok, Fauzi Bowo memilih sikap gentleman. Dia langsung menelepon Jokowi memberikan ucapan selamat begitu tahu hasil hitung cepat. Gaya bicaranya positif.

Dia juga segera beres-beres meninggalkan rumah dinas gubernur Jakarta, di Jalan Diponegoro, saat petinggi Partai Demokrat masih berhalusinasi dengan bilang bahwa meski hasil quick count memenangkan Jokowi tapi hasil hitung manual KPU bisa lain.

Pernyataan Amien Rais tentang beking cukong di belakang Ahok muncul hanya dua hari menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober. Apa makna semua ini?

Kita semua tahu bagaimana pada tahun 1965 kekerasan berdarah menelan jutaan nyawa di seluruh negeri. Orang melakukan pembunuhan keji dalam peristiwa penumpasan PKI tanpa perasaan bersalah—sedikit banyak karena tokoh-tokoh masyarakat pada waktu itu memberikan restunya (lihat laporan Tempo, 1-7 Oktober 2012).

Bukan tak mungkin kekerasan mengerikan, dalam skala besar, seperti peristiwa 1965 itu menimpa bangsa kita lagi jika para tokoh tidak mampu memberikan teladan tentang pluralisme, perdamaian, dan demokrasi. Jangan cepat lupa, karena tahun 1965 itu belum terlalu jauh dari 2012! (Kabar24/lt)

 

 

 

Editor: Linda Tangdialla

Siapa peraih GRAND PRIZE 1 UNIT MOTOR Tebak Skor & Juara Brasil 2014? Klik DI SINI!.

KOMENTAR