facebook twitter rss

PAGELARAN MUSIK ETNIK: Solo International Ethnic Music Ganti Nama

Senin, 25/06/2012 21:27 WIB
Ketua Kereta Kencana of World Music, Bambang Sutejo/Jibiphoto/Agoes Rudianto
Agoes Rudianto
Ketua Kereta Kencana of World Music, Bambang Sutejo/Jibiphoto
Suharsih SOLO–Event Solo International Ethnic Music (SIEM) yang dijadwalkan 4-8 Juli 2012 berubah konsep. Namanya pun tak lagi SIEM melainkan Kereta Kencana World Music Festival. Ketua Festival SIEM, Bambang Sutejo mengungkapkan perubahan konsep dan nama acara itu tujuannya agar lebih fleksibel, baik dari sisi pemilihan tempat penyelenggaraan maupun jenis musik yang ditampilkan. “Kami tidak ingin festival itu dibatasi oleh administrasi kewilayahan, dalam arti festival bisa diselenggarakan di manapun, tak hanya di Solo,” ujarnya Senin (25/6). Namun Bambang menolak mengungkapkan lokasi penyelenggaraan acara itu, menyusul tak diperbolehkannya Taman Balekambang menjadi lokasi penyelenggaraan. Pihaknya masih mengurus perizinan tempat itu. Sedangkan mengenai fleksibilitas dari sisi jenis musik, Bambang mengakui kata etnik juga sengaja dihilangkan sehingga diharapkan semua jenis musik bisa ikut serta dalam festival itu. Namun mengenai jenis musik itu, Bambang tak memberi banyak keterangan karena ada kurator yang lebih memahaminya. Dia hanya mengatakan soal tempat akan tetap mempertahankan konsep awal yakni menggunakan tempat-tempat yang bernilai sejarah. Sebelumnya, penyelenggaraan SIEM 2012 dipermasalahkan terkait pemilihan Taman Balekambang sebagai lokasi penyelenggaraan. Banyak kalangan mulai dari DPRD, seniman, budayawan, pemerhati budaya dan aktivis lingkungan yang menyampaikan keberatan. Alasannya, Balekambang meskipun merupakan pusat pengembangan seni dan budaya, telah ditetapkan pula sebagai kawasan konservasi flora dan fauna. Pihak yang kontra itu khawatir penyelenggaraan acara sekaliber SIEM akan mengakibatkan kerusakan serius terhadap kawasan yang dilindungi itu. Mereka mendesak agar SIEM dipindahkan ke tempat lain dan desakan itu disetujui Walikota Solo, Joko Widodo. Ditanya apakah perubahan konsep itu terkait dengan pro dan kontra tersebut, serta berbagai permasalahan yang muncul kemudian, Bambang menampiknya. Menurutnya, perubahan konsep itu sudah dipikirkan sejak lama. Meski ada perubahan konsep maupun tempat penyelenggaraan, Bambang mengatakan sejauh ini tidak berpengaruh pada para penyaji yang akan berpentas di acara itu. Demikian pula terhadap materi sajiannya.(JIBI/iz)

Editor:

KOMENTAR