facebook twitter rss

Proses Panjang Pembuatan Film Sokola Rimba

Newswire Rabu, 13/11/2013 13:59 WIB
Konferensi pers Sokola Rimba/Antara
Antara
Konferensi pers Sokola Rimba

Kabar24.com, JAKARTA- Proses pembuatan film Sokola Rimba yang bercerita tentang anak-anak suku pedalaman bisa dibilang cukup panjang.

Riri Riza, selakuk penulis skenario, harus lebih dulu meyakinkan Butet agar mengizinkan dia mengadaptasi buku Sokola Rimba ke dalam film.

Butet mengaku merasa senang sekaligus khawatir saat Riri dan Mira Lesmana, sebagai produser, mengajukan keinginan untuk memfilmkan bukunya.

"Sampai aku yakin bahwa mereka mengerti dan berpihak serta bisa merasakan perjuangan orang rimba, aku akhirnya setuju. Tapi yang lebih penting lagi persetujuan dari rimba," kata Butet.

Difasilitasi oleh Butet dan organisasi Sokola, Riri beserta para kru lantas berkali-kali mengunjungi rimba sejak November tahun lalu untuk meminta izin, melakukan observasi, dan beradaptasi dengan kehidupan rimba yang akan divisualisasikan dalam film.

Proses pengambilan gambar untuk film tersebut berlangsung selama tiga pekan.

Riri sengaja mengambil lokasi rimba dan mendapuk anak-anak rimba untuk berperan demi menghadirkan kisah yang otentik secara visual.

Murid-murid Butet pada era 2000-an menjadi inspirasi penciptaan karakter anak-anak di film, tapi anak-anak yang diajak berperan menjadi diri mereka sendiri karena Riri menyesuaikan skenario dengan kehidupan mereka.

Sementara pemeran Butet jatuh pada aktris Prisia Nasution. Aktris kelahiran 1 Juni 1984 yang pernah meraih Piala Citra untuk film Sang Penari itu belajar bahasa rimba demi menghidupkan karakternya.

Ada pula Rukman Rosadi yang berperan sebagai Bahar, rekan kerja Butet, dan Nadhira Suryadi menjadi Andit, sahabat Butet.

Visualisasi kehidupan rimba dalam film produksi Miles Production itu terwujud berkat kerja sama beberapa profesional seperti sinematografer Gunnar Nimpuno dan penata artistik Eros Eflin yang bekerja dengan Riri Riza di film Petualangan Sherina.

Selain itu ada Aksan Sjuman yang menggarap musik film, serta editor W. Ichwandiardono, yang sebelumnya mengerjakan film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.

Riri berharap film itu bisa membuka mata orang bahwa pendidikan di Indonesia tidak bisa disamaratakan di semua tempat.

"Indonesia itu kompleks, enggak bisa disamaratakan, pendidikan harus sama di antara orang desa, kota, atau rimba. Situasi film ini memperlihatkan hal itu," imbuhnya. (Antara)

 

BACA JUGA:

Inilah 5 Jenis Vitamin Untuk Kesehatan Seksual Pria

4 Tips Untuk Dapatkan Pekerjaan Setelah Dipecat

Editor: Andhina Wulandari

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

KOMENTAR