facebook twitter rss

Lianna Gunawan: Sukses Karena Konsep

Saeno Rabu, 27/06/2012 23:14 WIB
Ilustrasi/laspinacollections.com
laspinacollections.com
Ilustrasi
Mulia Ginting Munthe SEKITAR tiga tahun lalu kegiatan Lianna Gunawan lebih banyak dicurahkan untuk mengamati persepatuan nasional dan internasional. Mengamati mode dan perkembangan sepatu menjadi rutinitas, karena ia sangat menyukai model-model sepatu kaum Hawa yang konon bisa memperindah kaki orang yang memakainya. Media yang dijadikannya memonitor perkembangan itu tidak lain jaringan internet. Dari sekadar mengamati model sepatu berdasarkan hobi, lalu timbul rencana membuat sendiri sepatu. Rezeki dan rahmat yang dilimpahkan Tuhan menyertai Lianna. Secara tiba-tiba kehidupan Liana berubah drastis. Dalam setahun ia berhasil menyandang predikat sebagai wirausaha. Meski saat ini tergolong sukses, Liana mengaku bisnisnya saat ini justru tidak pernah direncanakan sebelumnya. ”Tiga tahun lalu profesi saya hanya sebagai ibu rumah tangga meski sempat bertugas menjadi marketing perusahaan. Bisnis yang saya tekuni saat ini sebagai produsen sepatu lokal menggunakan bahan dasar kain tradisional dari seluruh Indonesia,” katanya. Konsepnya yang memadukan unsur kain tradisional dan karya seni, membuat sepatu yang diproduksi Liana kian dikenal. Kini sepatu-sepatu itu dipasarkan di bawah brand La Spina Collection. “Sepatu La Spina itu merupakan hasil kerajinan tangan berdasarkan unsur kain tradisional yang digabung dengan karya seni,” ujarnya. Lianna sengaja mengangkat kain tradisional menjadi kekuatan produk sepatunya. Pasalnya, ia punya keinginan yang besar untuk mempromosikan kultur atau budaya Indonesia. Baik untuk promosi di negeri sendiri maupun di manca negara yang merupakan target utamanya. Harga satu unit sepatu termurah yang dipasarkan sebesar Rp300.000, sedangkan nilai tertinggi mencapai Rp975.000. Sepatu seharga itu terbuat dari kayu mahoni ukir dilengkapi full leather. Sepatu yang dikombinasi dengan karya seni kerajinan tangan diperkenalkan Lianna pada 2009. Namun ketika itu belum mampu menghasilkan produk masal seperti sekarang. Sebab, ketika itu ia punya kegiatan lain. Keterlibatan Lianna secara khusus dalam produksi sepatu terhitung belum lama. Ia baru efektif terlibat sekitar 14 bulan terakhir. Meski begitu, konsumennya sudah cukup luas dan membuat Liana harus membuka bengkel di kota Bandung, Jawa Barat. SDM pendukungnya memang belum besar, ia baru mempekerjakan 20 orang. Sebelum memiliki bengkel sendiri, operasional usaha Lianna berdasarkan order atau pesanan dari kosnumen. ”Ketika itu kami seakan bekerja seperti makelar saja. Ketika ada order, baru bekerja. Ketika belum ada pekerjaan, kami mencari-cari pekerjaan. Konsep kerja seperti sekarang ini pun berubah, karena sebelumnya saya menawarkan produk secara online,” ungkap Lilianna. Minimal produksi yang dihasilkan La Spina Collection saat ini mencapai 700 pasang sepatu per bulan. Namun, ia belum merasa puas dengan kinerja saat ini. ”Kalau kami sudah puas dengan jumlah itu dan berhenti, berarti kemampuan kami memang terbatas. Akan tetapi kami ingin mengembangkan kapasitas usaha. Langkah berikutnya, wajib membuka pasar lebih luas,” tuturnya. Seandainya order konsumen lebih dari kapasitas kinerja perusahaannya, Lianna siap menjalin kerja sama dengan bengkel lain yang memiliki core business sama. Dengan mengandalkan koneksi kerja, dia optimistis bisa memenuhi permintaan pasar, untuk ekspor sekalipun. Kini, walau lebih sibuk, Liana mengaku menikmati kegiatannya. “Terus terang, ada perbedaan jam kerja ketika saya berstatus pegawai. Ketika itu bekerja 9 jam sehari. Saat ini hampir 13 jam, namun bisa lebih dinikmati,” ungkap Lianna Gunawan. (JIBI/sae)

Editor: Saeno

Siapa peraih GRAND PRIZE 1 UNIT MOTOR Tebak Skor & Juara Brasil 2014? Klik DI SINI!.

KOMENTAR

comments powered by Disqus